Pesan Kewaspadaan Iman KH Ma’ruf Amin di Peringatan Maulid Jakarta

Written by

in

Pesan Ma’ruf Amin soal kewaspadaan iman kembali mengemuka saat Rais Aam Syuriah ke-10 PBNU itu memberi tausiah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Zawiyah Ar Raudhah, Jakarta. Acara yang berlangsung Selasa malam, 25 Agustus 2026, dihadiri sekitar seribu jemaah dan menyoroti pentingnya berpegang teguh di tengah godaan zaman.

Bagi pembaca di Jawa Timur, terutama Surabaya yang kental tradisi nahdliyin, pesan tersebut terasa akrab. NU di tanah air memang kerap menekankan keseimbangan antara kecintaan kepada Rasulullah dan keteguhan menghadapi cobaan sehari-hari tanpa harus mengarang peristiwa lokal yang tidak terjadi.

Latar kehadiran Rais Aam di Zawiyah Ar Raudhah

Mantan Wakil Presiden RI itu hadir sebagai tokoh sentral dalam peringatan kelahiran Nabi. Suasana majelis diisi jemaah yang memadati lokasi, menandakan antusiasme publik terhadap majelis ilmu sekaligus momentum spiritual.

Dalam kesempatan tersebut, KH Ma’ruf Amin tidak hanya mengajak memperbanyak selawat, tetapi menekankan sisi introspeksi. Ia menempatkan Maulid sebagai momentum untuk mengoreksi arah hidup agar tidak lepas dari tuntunan ilahi.

Dunia sebagai persinggahan penuh ujian

Menurut penjelasan KH Ma’ruf, para ulama menggambarkan kehidupan dunia sebagai mamarran imtihaniyah, yakni tempat singgah yang sarat ujian. Tanpa bimbingan dan inayah serta himayah rabbaniyah, manusia berisiko menyimpang dari jalan Allah SWT.

Pernyataan itu disampaikan dengan nada menasihati, bukan menakut-nakuti. Ia menekankan bahwa ujian datang dalam beragam bentuk, sehingga umat perlu terus memohon perlindungan agar tetap istiqamah.

Fitnah lama dan peringatan ulama abad lalu

KH Ma’ruf mengutip pandangan Shahibul I’anah, Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha al-Dimyathi al-Bakri, pengarang kitab I’anah al-Thalibin. Sejak dulu, fitnah telah membuat banyak orang meninggalkan kebenaran.

Hanya orang yang dikehendaki Allah yang bertahan, dan jumlah mereka digambarkan sedikit. Mereka yang masih fi sabilillah dinilai semakin tergerus karena terpengaruh bujukan yang menjauhkan dari jalan yang lurus.

Ia menambahkan, upaya menjauhkan manusia dari Allah tidak pernah berhenti. Bahkan peringatan serupa sudah disampaikan ulama sekitar satu abad sebelumnya, sehingga generasi kini dituntut lebih waspada.

Makna pesan bagi umat di pusat dan daerah

Tausiah ini relevan bagi komunitas Muslim di berbagai kota, termasuk kawasan urban seperti Surabaya yang menghadapi arus informasi cepat dan tekanan sosial ekonomi. Intinya sederhana: peringatan Maulid jangan berhenti pada seremoni, melainkan menjadi pengingat untuk menjaga hati.

  • Waspada terhadap rayuan yang menjauhkan dari kebenaran
  • Memohon inayah dan himayah agar tidak menyimpang
  • Menyadari dunia hanya persinggahan penuh ujian
  • Meneladani keteguhan yang diajarkan para ulama

Dengan bingkai itu, jemaah diajak merawat keimanan secara praktis: memperbanyak zikir, menjaga pergaulan, dan tidak mudah terbawa arus yang bertentangan dengan syariat. KH Ma’ruf menempatkan sedikitnya orang yang bertahan di jalan Allah sebagai alarm spiritual, bukan vonis putus asa.

Peringatan di Jakarta tersebut menjadi salah satu rujukan publik soal bagaimana tokoh NU menyampaikan Maulid: meriah dalam kecintaan kepada Nabi, tegas dalam menjaga arah hidup. Umat di Jawa Timur dapat mengambil spirit yang sama di majelis-majelis setempat tanpa mengubah fakta peristiwa yang berlangsung di ibu kota.

Secara keseluruhan, pesan Rais Aam mengajak umat merayakan Maulid sambil memperkuat benteng diri. Kewaspadaan, keteguhan, dan kesadaran akan ujian dunia menjadi tiga kata kunci yang pantas dibawa pulang setiap jemaah.

Sumber: Sindo News.

Tag: Maulid Nabi, KH Ma’ruf Amin, PBNU, tausiah Jakarta, Zawiyah Ar Raudhah, kewaspadaan iman, ulama NU, Jawa Timur

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *