Tag: Maulid Nabi

  • Maulid Nabi di Jawa Timur: Saat Cinta Rasul Menuntut Aksi Nyata

    Maulid Nabi di Jawa Timur: Saat Cinta Rasul Menuntut Aksi Nyata

    Setiap memasuki Rabiul Awal, peringatan Maulid Nabi Jatim kembali meramaikan masjid, majelis, dan ruang publik. Umat Islam di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur memperbanyak shalawat, menggelar tabligh, hingga pawai. Semarak itu sahih sebagai ekspresi kecintaan. Namun, banyak pengamat keagamaan mengingatkan agar momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak berhenti di lapisan ritual dan emosi semata.

    Cinta kepada Rasulullah sering dipahami sebatas meniru akhlak mulia dalam kehidupan pribadi. Pendekatan itu penting, tetapi belum menyentuh inti yang lebih dalam: membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu dan penghambaan kepada selain Allah, serta mendorong perubahan tatanan yang jauh dari nilai Islam menuju sistem yang menegaskan ketaatan hanya kepada Sang Pencipta.

    Ritual tahunan yang perlu diisi makna perjuangan

    Di Surabaya, suasana Maulid terasa akrab di kampung, pondok, dan masjid besar. Aktivitas kolektif mempererat ukhuwah. Persoalannya muncul ketika substansi hanya berputar pada seremoni. Tanpa arah yang jelas, peringatan berisiko menjadi rutinitas tahunan yang menghangatkan hati sesaat, lalu redup tanpa bekas pada cara pandang dan perilaku sosial umat.

    Padahal sejarah kenabian menampilkan sosok yang tak hanya lembut dalam pergaulan, tetapi konsisten mengajak masyarakat keluar dari sistem jahiliah. Meneladani beliau berarti mengaitkan diri pada semangat syiar, bukan hanya mengenang tanggal lahir. Bagi pembaca di kawasan metropolitan Jawa Timur, pertanyaan sederhana bisa diajukan: apakah peringatan tahun ini mengubah cara kita menyikapi ketidakadilan dan kerusakan di sekitar?

    Kesadaran kerusakan dan arah metode yang tepat

    Sebagian umat sudah merasakan dampak kerusakan sosial dan ekonomi di lingkungan sehari-hari. Tuntutan perubahan pun muncul di berbagai forum. Celah besar terletak pada arah dan metode. Jika cara yang ditempuh menjauh dari manhaj perjuangan Rasulullah, hasilnya mudah terseret arus yang justru memperkuat sistem lama.

    Dalam kehidupan modern, penghambaan kepada selain Allah kerap berjalan sistemik lewat logika kapitalisme, demokrasi prosedural, dan liberalisme yang menempatkan kebebasan individu serta materi sebagai orientasi utama. Pihak yang diuntungkan sistem itu cenderung mempertahankan status quo. Suara yang menyerukan kebangkitan nilai Islam pun rawan diredam. Karena itu, Maulid layak dijadikan titik balik kesadaran, bukan sekadar perayaan.

    Ittiba yang menuntut keterikatan pada syariat

    Makna ittiba’ atau mengikuti Nabi bukan terbatas pada amalan sunah ritual. Ia menuntut keterikatan pada syariat dan metode dakwah yang beliau tempuh. Al-Qur’an dalam surah Ali Imran ayat 31 menegaskan bahwa cinta kepada Allah dibuktikan dengan mengikuti Rasul, sehingga Allah mencintai dan mengampuni dosa hamba-Nya. Ayat itu menjadi kompas agar Maulid tidak kosong dari komitmen.

    Metode dakwah Rasulullah dikenal melalui tahapan pembinaan kader (tasqif), interaksi luas dengan umat (tafa’ul ma’al ummah), lalu kesiapan menerima amanah kepemimpinan (istilamul hukmi). Tahapan itu menuntut kesabaran, kejelasan ide, dan kerja kolektif. Umat di Jawa Timur yang aktif di majelis taklim dan organisasi keagamaan memiliki modal sosial untuk mengisi tahapan pembinaan dan interaksi secara teratur, tanpa perlu menunggu momen spektakuler.

    • Memperkuat kajian yang mengaitkan akhlak dengan sistem kehidupan
    • Menjaga ukhuwah tanpa kehilangan arah ideologis yang jelas
    • Menjadikan shalawat pendorong amal, bukan pengganti kerja dakwah
    • Mengajak generasi muda memahami sejarah perjuangan Nabi secara utuh

    Rahmat untuk alam dan tanggung jawab lokal

    Firman dalam surah Al-Anbiya ayat 107 mengingatkan bahwa Nabi diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rahmat itu hadir utuh ketika nilai Islam menyentuh tata kelola, ekonomi, pendidikan, dan hubungan sosial, bukan hanya ruang ibadah formal. Di kota-kota Jawa Timur, termasuk Surabaya yang majemuk, pesan rahmat justru relevan: dakwah yang santun, tegas pada prinsip, serta solutif terhadap problem warga.

    Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi Jatim dapat menjadi laboratorium kecil kesadaran kolektif. Masyarakat diajak menilai ulang orientasi hidup yang terlalu materialistik, sekaligus merapikan niat agar setiap pengajian dan kegiatan Maulid mengarah pada perbaikan nyata. Cinta yang autentik kepada Rasulullah teruji pada kesediaan mengemban misi yang sama: menegakkan ketaatan kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

    Pada akhirnya, bulan Rabiul Awal adalah undangan tahunan untuk kembali menimbang prioritas. Jika shalawat berkumandang di surau dan jalan protokol Surabaya, biarlah gema itu mengingatkan bahwa perjuangan syiar belum selesai. Umat diajak melangkah lebih jauh dari seremoni, menyambung estafet dakwah, dan menjaga harapan agar Islam kembali hadir sebagai rahmat yang terasa dalam kehidupan sehari-hari.

    Sumber: Republika.

    Tag: maulid nabi, jawa timur, teladan rasulullah, dakwah islam, surabaya, rabiul awal, syiar islam, ittiba

  • Pesan Kewaspadaan Iman KH Ma’ruf Amin di Peringatan Maulid Jakarta

    Pesan Kewaspadaan Iman KH Ma’ruf Amin di Peringatan Maulid Jakarta

    Pesan Ma’ruf Amin soal kewaspadaan iman kembali mengemuka saat Rais Aam Syuriah ke-10 PBNU itu memberi tausiah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Zawiyah Ar Raudhah, Jakarta. Acara yang berlangsung Selasa malam, 25 Agustus 2026, dihadiri sekitar seribu jemaah dan menyoroti pentingnya berpegang teguh di tengah godaan zaman.

    Bagi pembaca di Jawa Timur, terutama Surabaya yang kental tradisi nahdliyin, pesan tersebut terasa akrab. NU di tanah air memang kerap menekankan keseimbangan antara kecintaan kepada Rasulullah dan keteguhan menghadapi cobaan sehari-hari tanpa harus mengarang peristiwa lokal yang tidak terjadi.

    Latar kehadiran Rais Aam di Zawiyah Ar Raudhah

    Mantan Wakil Presiden RI itu hadir sebagai tokoh sentral dalam peringatan kelahiran Nabi. Suasana majelis diisi jemaah yang memadati lokasi, menandakan antusiasme publik terhadap majelis ilmu sekaligus momentum spiritual.

    Dalam kesempatan tersebut, KH Ma’ruf Amin tidak hanya mengajak memperbanyak selawat, tetapi menekankan sisi introspeksi. Ia menempatkan Maulid sebagai momentum untuk mengoreksi arah hidup agar tidak lepas dari tuntunan ilahi.

    Dunia sebagai persinggahan penuh ujian

    Menurut penjelasan KH Ma’ruf, para ulama menggambarkan kehidupan dunia sebagai mamarran imtihaniyah, yakni tempat singgah yang sarat ujian. Tanpa bimbingan dan inayah serta himayah rabbaniyah, manusia berisiko menyimpang dari jalan Allah SWT.

    Pernyataan itu disampaikan dengan nada menasihati, bukan menakut-nakuti. Ia menekankan bahwa ujian datang dalam beragam bentuk, sehingga umat perlu terus memohon perlindungan agar tetap istiqamah.

    Fitnah lama dan peringatan ulama abad lalu

    KH Ma’ruf mengutip pandangan Shahibul I’anah, Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha al-Dimyathi al-Bakri, pengarang kitab I’anah al-Thalibin. Sejak dulu, fitnah telah membuat banyak orang meninggalkan kebenaran.

    Hanya orang yang dikehendaki Allah yang bertahan, dan jumlah mereka digambarkan sedikit. Mereka yang masih fi sabilillah dinilai semakin tergerus karena terpengaruh bujukan yang menjauhkan dari jalan yang lurus.

    Ia menambahkan, upaya menjauhkan manusia dari Allah tidak pernah berhenti. Bahkan peringatan serupa sudah disampaikan ulama sekitar satu abad sebelumnya, sehingga generasi kini dituntut lebih waspada.

    Makna pesan bagi umat di pusat dan daerah

    Tausiah ini relevan bagi komunitas Muslim di berbagai kota, termasuk kawasan urban seperti Surabaya yang menghadapi arus informasi cepat dan tekanan sosial ekonomi. Intinya sederhana: peringatan Maulid jangan berhenti pada seremoni, melainkan menjadi pengingat untuk menjaga hati.

    • Waspada terhadap rayuan yang menjauhkan dari kebenaran
    • Memohon inayah dan himayah agar tidak menyimpang
    • Menyadari dunia hanya persinggahan penuh ujian
    • Meneladani keteguhan yang diajarkan para ulama

    Dengan bingkai itu, jemaah diajak merawat keimanan secara praktis: memperbanyak zikir, menjaga pergaulan, dan tidak mudah terbawa arus yang bertentangan dengan syariat. KH Ma’ruf menempatkan sedikitnya orang yang bertahan di jalan Allah sebagai alarm spiritual, bukan vonis putus asa.

    Peringatan di Jakarta tersebut menjadi salah satu rujukan publik soal bagaimana tokoh NU menyampaikan Maulid: meriah dalam kecintaan kepada Nabi, tegas dalam menjaga arah hidup. Umat di Jawa Timur dapat mengambil spirit yang sama di majelis-majelis setempat tanpa mengubah fakta peristiwa yang berlangsung di ibu kota.

    Secara keseluruhan, pesan Rais Aam mengajak umat merayakan Maulid sambil memperkuat benteng diri. Kewaspadaan, keteguhan, dan kesadaran akan ujian dunia menjadi tiga kata kunci yang pantas dibawa pulang setiap jemaah.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: Maulid Nabi, KH Ma’ruf Amin, PBNU, tausiah Jakarta, Zawiyah Ar Raudhah, kewaspadaan iman, ulama NU, Jawa Timur