Tag: PBNU

  • Gus Yahya Dampingi Adik di Tipikor Jakarta soal Kuota Haji

    Gus Yahya Dampingi Adik di Tipikor Jakarta soal Kuota Haji

    Kehadiran Gus Yahya sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menarik perhatian publik, termasuk warga Nahdliyin di Jawa Timur dan Surabaya. Mantan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf datang langsung ke ruang sidang pada Kamis, 3 September 2026, untuk memberi dukungan moral kepada adiknya, mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut.

    Perkara yang digelar menyangkut dugaan korupsi pembagian kuota haji tambahan periode 2023-2024. Empat terdakwa dihadirkan, termasuk Gus Yaqut, bersama Ketua Umum Asosiasi Kesthuri Asrul Azis Taba, mantan staf khusus Ishfah Abidal Azis atau Gus Alex, serta Direktur Operasional PT Makassar Toraja (Maktour) Ismail Adham.

    Dukungan moral di ruang tunggu pengadilan

    Sebelum sidang dilanjutkan, Gus Yahya terlihat duduk di ruang tunggu. Ia mengenakan peci hitam, baju batik cokelat, dan celana hitam. Di lokasi yang sama, ia sempat berbincang dengan kuasa hukum Gus Yaqut, Mellisa Anggraini.

    Kedatangan tokoh NU tersebut tidak sekadar simbolis. Bagi banyak warga di Jatim yang mengikuti dinamika ormas keagamaan, momen ini menegaskan ikatan kekeluargaan di tengah proses hukum yang berjalan di ibu kota.

    Momen mengiringi adik menuju sel sementara

    Perhatian memuncak saat majelis hakim menskors persidangan. Sekitar pukul 17.57 WIB, Gus Yaqut yang memakai rompi tahanan oranye milik KPK berjalan menuju sel sementara di PN Jakarta Pusat. Di belakangnya, Gus Yahya terus mengiringi langkah adiknya.

    Gambar pertemuan singkat itu menjadi sorotan karena menampilkan dukungan keluarga di sela proses pidana. Tidak ada pernyataan resmi panjang yang disampaikan di lokasi; yang tampak adalah pendampingan fisik hingga adiknya kembali ke ruang tahanan sementara.

    Empat saksi dihadirkan jaksa KPK

    Jaksa Penuntut Umum KPK menghadirkan empat saksi pada sidang tersebut. Mereka adalah mantan Direktur Bina Haji Khusus Kementerian Agama Jaja Jaelani, mantan Kepala Biro Hukum Kemenag Ahmad Bahiej, staf Biro Hukum di Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Deni Sefianto, serta staf biro travel Pesona Mozaik Nur Faidzin yang akrab disapa Nanang.

    Keempat keterangan saksi diproses dalam rangkaian pemeriksaan perkara kuota haji tambahan. Sidang berlangsung di Pengadilan Tipikor Jakarta dengan kehadiran seluruh terdakwa yang disebutkan di atas.

    Relevansi bagi pembaca Jawa Timur

    Gus Yahya dan Gus Yaqut dikenal luas di kalangan nahdliyin, termasuk di Surabaya dan kota-kota Jatim lainnya. Meski persidangan berlangsung di Jakarta, perkembangan kasus ini dipantau warga karena menyentuh isu haji dan reputasi tokoh yang pernah memimpin struktur keagamaan nasional.

    Publik di daerah diminta mengikuti informasi dari sumber resmi pengadilan dan penegak hukum agar tidak terbawa spekulasi. Proses hukum masih berjalan; kehadiran saudara kandung di ruang sidang menjadi catatan humanis tanpa mengubah substansi dakwaan yang sedang diuji.

    Dengan pantauan media dan masyarakat sipil, transparansi sidang tipikor dinilai penting agar publik, termasuk jamaah calon haji di Jatim, memahami alur perkara secara proporsional.

    Sumber: Liputan6.

    Tag: Gus Yahya, Gus Yaqut, sidang tipikor, kuota haji, KPK, PBNU, korupsi haji, Jakarta

  • Presiden Apresiasi Muktamar NU Jombang Berlangsung Rukun, Gus Kikin Pimpin PBNU

    Presiden Apresiasi Muktamar NU Jombang Berlangsung Rukun, Gus Kikin Pimpin PBNU

    Kabar dari Jombang kembali menjadi sorotan warga Jawa Timur, termasuk pembaca di Surabaya. Presiden Prabowo Subianto memberi apresiasi atas terselenggaranya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dinilai guyub dan damai, sekaligus mengucapkan selamat kepada pimpinan baru Pengurus Besar NU. Acara penutupan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Senin, 31 Agustus 2026.

    Bagi warga Surabaya dan kawasan metropolitan Gerbangkertosusila, perkembangan organisasi keagamaan sebesar NU selalu relevan. Ribuan pesantren dan jaringan warga nahdliyin di Jatim menjadikan hasil muktamar di Jombang sebagai isu yang dekat dengan kehidupan sosial keagamaan sehari-hari.

    Ucapan selamat dan penekanan pada suasana rukun

    Dalam kesempatan penutupan, Presiden menyampaikan ucapan selamat kepada jajaran pimpinan NU yang baru terpilih. Ia menyinggung bahwa muktamar berjalan sukses tanpa perlu uraian panjang, dengan suasana rukun yang patut diapresiasi.

    Prabowo menekankan bahwa NU memberi teladan bagi publik. Perbedaan pendapat dan kompetisi internal, menurutnya, dapat dikelola secara sehat meski organisasi ini menaungi puluhan juta anggota, ribuan pesantren, serta puluhan ribu kiai. Model tersebut dinilai layak menjadi rujukan bagi masyarakat luas di Indonesia.

    Harapan kontribusi nyata untuk bangsa

    Selain memuji kelancaran forum, Presiden juga menantikan darma bakti NU ke depan. Ia menyebut negara, bangsa, dan umat menunggu peran konkret organisasi ini pada hari-hari, bulan-bulan, hingga tahun-tahun mendatang.

    Pesan itu menggarisbawahi bahwa sukses administratif muktamar perlu diikuti kerja nyata di lapangan. Isu pendidikan pesantren, kesejahteraan umat, dan kohesi sosial di daerah seperti Jawa Timur menjadi ruang di mana kontribusi tersebut biasa diharapkan publik.

    Gus Kikin ditetapkan lewat musyawarah mufakat

    Muktamar ke-35 secara resmi menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031. Keputusan dibacakan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) KH Anwar Iskandar di lokasi yang sama di Tambakberas, Jombang.

    Anwar menjelaskan bahwa rapat AHWA pada pagi hari itu merupakan musyawarah mufakat untuk menjalankan mandat muktamar dalam memilih dan menetapkan ketua umum. Secara mufakat, forum memutuskan Gus Kikin sebagai ketua umum untuk periode tersebut.

    Perolehan suara dan izin Rais Aam

    Dalam proses penjaringan calon, nama Gus Kikin tercatat meraih suara terbanyak. Dari 2.397 suara yang masuk, ia memperoleh 472 suara sehingga berada di peringkat teratas dan memenuhi syarat untuk diajukan kepada Rais Aam terpilih, KH Miftachul Akhyar, guna mendapat pernyataan izin tertulis.

    • Lokasi penutupan: Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang
    • Ketua Umum PBNU terpilih: KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)
    • Periode khidmah: 2026–2031
    • Rais Aam terpilih: KH Miftachul Akhyar

    Rangkaian fakta tersebut menegaskan bahwa estafet kepemimpinan PBNU berlangsung melalui mekanisme internal yang telah disepakati peserta muktamar. Bagi pembaca di Surabaya, informasi ini membantu memahami arah kepengurusan NU pusat yang berpengaruh pada jaringan cabang dan ranting di seluruh Jatim.

    Dengan penutupan di Jombang dan apresiasi langsung dari Presiden, Muktamar ke-35 NU menutup babak pemilihan dengan catatan damai. Publik kini menantikan langkah awal kepengurusan baru dalam menjawab harapan kontribusi bagi umat dan bangsa.

    Sumber: Liputan6.

    Tag: Muktamar NU, Jombang, Gus Kikin, PBNU, Prabowo, Jawa Timur, pesantren, Surabaya

  • Pesan Kewaspadaan Iman KH Ma’ruf Amin di Peringatan Maulid Jakarta

    Pesan Kewaspadaan Iman KH Ma’ruf Amin di Peringatan Maulid Jakarta

    Pesan Ma’ruf Amin soal kewaspadaan iman kembali mengemuka saat Rais Aam Syuriah ke-10 PBNU itu memberi tausiah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Zawiyah Ar Raudhah, Jakarta. Acara yang berlangsung Selasa malam, 25 Agustus 2026, dihadiri sekitar seribu jemaah dan menyoroti pentingnya berpegang teguh di tengah godaan zaman.

    Bagi pembaca di Jawa Timur, terutama Surabaya yang kental tradisi nahdliyin, pesan tersebut terasa akrab. NU di tanah air memang kerap menekankan keseimbangan antara kecintaan kepada Rasulullah dan keteguhan menghadapi cobaan sehari-hari tanpa harus mengarang peristiwa lokal yang tidak terjadi.

    Latar kehadiran Rais Aam di Zawiyah Ar Raudhah

    Mantan Wakil Presiden RI itu hadir sebagai tokoh sentral dalam peringatan kelahiran Nabi. Suasana majelis diisi jemaah yang memadati lokasi, menandakan antusiasme publik terhadap majelis ilmu sekaligus momentum spiritual.

    Dalam kesempatan tersebut, KH Ma’ruf Amin tidak hanya mengajak memperbanyak selawat, tetapi menekankan sisi introspeksi. Ia menempatkan Maulid sebagai momentum untuk mengoreksi arah hidup agar tidak lepas dari tuntunan ilahi.

    Dunia sebagai persinggahan penuh ujian

    Menurut penjelasan KH Ma’ruf, para ulama menggambarkan kehidupan dunia sebagai mamarran imtihaniyah, yakni tempat singgah yang sarat ujian. Tanpa bimbingan dan inayah serta himayah rabbaniyah, manusia berisiko menyimpang dari jalan Allah SWT.

    Pernyataan itu disampaikan dengan nada menasihati, bukan menakut-nakuti. Ia menekankan bahwa ujian datang dalam beragam bentuk, sehingga umat perlu terus memohon perlindungan agar tetap istiqamah.

    Fitnah lama dan peringatan ulama abad lalu

    KH Ma’ruf mengutip pandangan Shahibul I’anah, Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha al-Dimyathi al-Bakri, pengarang kitab I’anah al-Thalibin. Sejak dulu, fitnah telah membuat banyak orang meninggalkan kebenaran.

    Hanya orang yang dikehendaki Allah yang bertahan, dan jumlah mereka digambarkan sedikit. Mereka yang masih fi sabilillah dinilai semakin tergerus karena terpengaruh bujukan yang menjauhkan dari jalan yang lurus.

    Ia menambahkan, upaya menjauhkan manusia dari Allah tidak pernah berhenti. Bahkan peringatan serupa sudah disampaikan ulama sekitar satu abad sebelumnya, sehingga generasi kini dituntut lebih waspada.

    Makna pesan bagi umat di pusat dan daerah

    Tausiah ini relevan bagi komunitas Muslim di berbagai kota, termasuk kawasan urban seperti Surabaya yang menghadapi arus informasi cepat dan tekanan sosial ekonomi. Intinya sederhana: peringatan Maulid jangan berhenti pada seremoni, melainkan menjadi pengingat untuk menjaga hati.

    • Waspada terhadap rayuan yang menjauhkan dari kebenaran
    • Memohon inayah dan himayah agar tidak menyimpang
    • Menyadari dunia hanya persinggahan penuh ujian
    • Meneladani keteguhan yang diajarkan para ulama

    Dengan bingkai itu, jemaah diajak merawat keimanan secara praktis: memperbanyak zikir, menjaga pergaulan, dan tidak mudah terbawa arus yang bertentangan dengan syariat. KH Ma’ruf menempatkan sedikitnya orang yang bertahan di jalan Allah sebagai alarm spiritual, bukan vonis putus asa.

    Peringatan di Jakarta tersebut menjadi salah satu rujukan publik soal bagaimana tokoh NU menyampaikan Maulid: meriah dalam kecintaan kepada Nabi, tegas dalam menjaga arah hidup. Umat di Jawa Timur dapat mengambil spirit yang sama di majelis-majelis setempat tanpa mengubah fakta peristiwa yang berlangsung di ibu kota.

    Secara keseluruhan, pesan Rais Aam mengajak umat merayakan Maulid sambil memperkuat benteng diri. Kewaspadaan, keteguhan, dan kesadaran akan ujian dunia menjadi tiga kata kunci yang pantas dibawa pulang setiap jemaah.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: Maulid Nabi, KH Ma’ruf Amin, PBNU, tausiah Jakarta, Zawiyah Ar Raudhah, kewaspadaan iman, ulama NU, Jawa Timur