Upaya pemulihan psikososial bagi anak korban gempa di Nusa Tenggara Timur kembali menjadi perhatian publik, termasuk pembaca di Surabaya dan Jawa Timur yang kerap menyoroti solidaritas kebencanaan nasional. Di Kabupaten Manggarai, rangkaian trauma healing digelar agar anak-anak mendapat ruang aman untuk mengekspresikan diri setelah guncangan magnitudo 7,7.
Ketua Umum Taruna Merah Putih (TNP) Pinka Haprani, yang juga anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, bersama belasan relawan mengajak ratusan anak mengikuti berbagai aktivitas ringan. Fokus kegiatan bukan hanya hiburan sesaat, melainkan pendampingan agar rasa takut dan cemas berangsur mereda.
Lokasi kegiatan di tenda sekolah darurat Wae Ri’i
Keceriaan anak-anak mulai terlihat di tenda yang menggantikan ruang kelas SD Inpres Robo dan SMPN Satap Robo, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai. Kegiatan berlangsung pada Selasa siang, 1 September 2026, di tengah kondisi fasilitas pendidikan yang masih terbatas pascabencana.
Selain relawan TNP, belasan mahasiswa dari sejumlah kampus di Ruteng turut membantu mendampingi peserta. Kehadiran relawan lokal dinilai penting agar komunikasi dengan anak-anak lebih dekat dan suasana tenda terasa akrab.
Ragam aktivitas memulihkan rasa aman anak
Anak-anak diajak bermain, menggambar, bernyanyi, membaca, mendengarkan dongeng, serta bercerita. Rangkaian itu dirancang sebagai sarana menyalurkan emosi tanpa tekanan, sekaligus menumbuhkan kembali rasa aman di lingkungan yang sempat terguncang.
Pinka menegaskan bahwa korban, terutama anak-anak, berhak memperoleh pendampingan psikososial. Menurut keterangannya di Jakarta, Kamis (3/9/2026), kegiatan tersebut bertujuan memulihkan trauma pascagempa agar anak dapat kembali menjalani rutinitas dengan lebih tenang.
Pendampingan pimpinan TNP di lapangan
Dalam kesempatan yang sama, Pinka didampingi Sekretaris Jenderal DPP Taruna Merah Putih Rio Dondokambey, yang juga anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan. Bendahara Umum DPP Taruna Merah Putih Stephanie Octavia turut berbaur dan bermain bersama anak-anak.
Kehadiran para pendamping di tenda darurat memperlihatkan pendekatan langsung: duduk bersama peserta, mengikuti permainan, dan memberi ruang bagi anak untuk tertawa kembali. Pendekatan itu diharapkan memperkuat pesan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal logistik, tetapi juga dukungan mental.
Makna solidaritas bagi publik Jawa Timur
Bagi masyarakat Surabaya dan Jawa Timur, berita pemulihan anak di Manggarai menjadi pengingat bahwa dampak gempa di NTT masih memerlukan perhatian berkelanjutan. Informasi kegiatan trauma healing juga dapat mendorong kepedulian terhadap isu pendidikan darurat dan kesehatan jiwa anak di daerah terdampak.
Ke depan, pendampingan serupa diharapkan tetap berlanjut seiring pemulihan fasilitas sekolah. Dengan aktivitas yang ramah anak dan melibatkan relawan setempat, proses mengurangi kecemasan pascagempa berpeluang berjalan lebih humanis dan terukur.
Ringkasnya, trauma healing di Wae Ri’i menempatkan anak sebagai pusat perhatian: memberi kesempatan tersenyum lagi, belajar ringan di tenda, dan merasakan dukungan komunitas setelah bencana.
Sumber: Sindo News.

Leave a Reply