Upaya menemukan jurnalis hilang Krakatau bersama awak kapal yang terputus kontak di Selat Sunda semakin digencarkan memasuki hari keempat. Kantor SAR Jakarta mengerahkan kapal tambahan agar jangkauan pencarian di kawasan Gunung Anak Krakatau lebih luas dan terkoordinasi.
Speedboat Arupadatu I hilang kontak sejak Senin, 7 September 2026, saat digunakan untuk peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Di dalam kapal terdapat delapan orang: lima jurnalis serta tiga awak yang mendampingi perjalanan liputan tersebut. Hingga Jumat, 11 September 2026, mereka belum ditemukan.
Penambahan unsur laut dari Jakarta
Untuk memperbesar daya jangkau Tim SAR Gabungan, KN SAR 234 Antasena diberangkatkan dari Dermaga Basarnas Pantai Mutiara, Jakarta. Kapal itu membawa 18 personel yang terdiri atas anak buah kapal dan tenaga rescue.
Menurut rencana, Antasena tiba di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, sekitar pukul 19.36 WIB. Setelah sandar, unit ini akan digabungkan ke dalam operasi sesuai kebutuhan lapangan di perairan Selat Sunda.
Pernyataan resmi Kepala Kantor SAR Jakarta
Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menegaskan pengerahan kapal tersebut sebagai dukungan kekuatan agar pencarian berjalan lebih optimal. Ia menyampaikan bahwa penambahan unsur disesuaikan dengan perkembangan situasi di lokasi operasi.
Langkah ini diambil setelah operasi berjalan beberapa hari tanpa hasil temuan yang memadai. Penguatan armada diharapkan menutup celah wilayah yang belum tersisir secara intensif di sekitar kawasan vulkanik Anak Krakatau.
Kronologi singkat dan fokus pencarian
Arupadatu I berlayar untuk keperluan jurnalistik terkait erupsi Gunung Anak Krakatau. Kontak hilang di perairan Selat Sunda, wilayah yang dikenal memiliki arus dan kondisi cuaca dinamis. Delapan penumpang yang dicari meliputi lima awak media dan tiga personel kapal.
Tim gabungan terus menyisir area laut dan titik-titik sekitar pulau di zona operasi. Penambahan KN SAR 234 Antasena menjadi bagian dari strategi memperpanjang daya tahan dan cakupan pencarian pada fase kritis hari keempat.
Perhatian publik dan relevansi bagi pembaca daerah
Kabar hilangnya rekan media di kawasan Anak Krakatau menarik perhatian luas, termasuk komunitas pers dan warga di Surabaya yang mengikuti perkembangan lewat pemberitaan nasional. Keselamatan jurnalis saat peliputan bencana alam kembali menjadi sorotan.
Sambil menunggu pembaruan dari lapangan, keluarga korban dan rekan sejawat menaruh harapan pada percepatan operasi setelah kapal tambahan bergabung. Koordinasi antarunsur SAR tetap menjadi kunci agar setiap informasi posisi dapat ditindaklanjuti cepat.
Pencarian masih berlangsung dengan dukungan personel dan armada yang diperkuat. Kabar Jatim akan terus memantau keterangan resmi terkait nasib delapan orang yang hilang di Selat Sunda.
Sumber: Sindo News.

Leave a Reply