Lima Titik Api Masih Aktif di Papua Barat, Operasi Udara BNPB Terhambat Avtur

Written by

in

Kondisi karhutla Papua Barat per akhir Agustus 2026 dinilai mulai terkendali, namun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih mencatat 20 hotspot dan lima titik api aktif. Informasi tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta dan relevan diikuti pembaca Surabaya karena memperlihatkan pola koordinasi nasional saat musim rawan kebakaran.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa petugas lapangan masih menemukan asap di sejumlah lokasi meski api secara umum mereda pada 30 Agustus 2026. Jarak pandang di area terdampak berada di kisaran 7 hingga 10 kilometer.

Dukungan helikopter swasta dan volume water bombing

Operasi pemadaman mengandalkan serangan udara. Dua helikopter milik PT Berau dikerahkan untuk water bombing, langkah yang diapresiasi BNPB sebagai wujud keterlibatan sektor swasta. Selain armada tersebut, satu helikopter BNPB telah menebar air total 662.000 liter ke zona kebakaran.

Pendekatan udara dipilih karena medan Papua Barat tidak memungkinkan operasi darat berjalan penuh. Vegetasi tinggi dan rapat membuat sebagian air dari water bombing tertahan di tajuk pohon sebelum mencapai lantai hutan, sehingga efektivitas pemadaman perlu dijaga dengan frekuensi sorti yang memadai.

Kendala geografis Bandara Babo dan pasokan avtur

Keterbatasan teknis menambah kompleksitas. Hanya satu helikopter yang dapat beroperasi dalam waktu bersamaan karena menara Bandara Babo tidak mencakup seluruh area operasi. Di sisi logistik, ketersediaan avtur menjadi hambatan nyata yang sedang diupayakan solusinya agar sorti udara tidak terputus.

BNPB bersama Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menekankan bahwa pemetaan ulang titik panas dan titik api akan terus dilakukan. Langkah awal setiap gelombang operasi tetap berupa pemantauan udara sebelum penentuan target water bombing berikutnya.

Satgas diaktifkan ulang hingga 5 September

Potensi mudah terbakar diperkirakan masih tinggi hingga 5 September 2026, terutama di Teluk Bintuni dan Fakfak. Karena itu satgas diminta kembali siaga, sementara pesawat pemadam tetap dalam posisi standby untuk merespons lonjakan hotspot sewaktu-waktu.

Bagi masyarakat Jawa Timur, termasuk Surabaya, pantauan karhutla di wilayah lain menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan musim kemarau. Pola koordinasi BNPB, dukungan swasta, dan penyesuaian taktik terhadap kondisi geografis bisa menjadi rujukan pemahaman publik saat memantau risiko asap dan kebakaran lahan di skala nasional.

Prioritas pemantauan dan kolaborasi lintas pihak

Fokus ke depan mencakup penjadwalan ulang operasi harian, pengamanan rantai pasok avtur, serta pemetaan yang lebih rapat di koridor Teluk Bintuni–Fakfak. Kolaborasi pemerintah dan swasta dinilai krusial agar lima titik api tersisa dapat dipadamkan sebelum potensi cuaca memperburuk sebaran api.

BNPB menegaskan bahwa status terkendali bukan berarti ancaman selesai. Dengan 20 hotspot yang masih terdeteksi, disiplin operasional dan dukungan logistik akan menentukan apakah situasi di Papua Barat stabil sepenuhnya setelah awal September.

Sumber: Liputan6.

Tag: karhutla Papua Barat, BNPB, titik api, water bombing, Teluk Bintuni, Fakfak, hotspot hutan, avtur pemadam

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *