Ribuan Korban Amputasi di Gaza Sulit Dapat Kaki Palsu

Written by

in

Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kembali menyorot perhatian pembaca di Surabaya dan Jawa Timur. Data resmi mencatat lebih dari 6.000 kasus amputasi sejak perang berlangsung, sementara pasokan kaki palsu dan peralatan rehabilitasi sangat terbatas. Kementerian Kesehatan Gaza mengungkap angka tersebut di tengah tekanan terhadap fasilitas medis setempat.

Bagi banyak keluarga korban, kehilangan anggota tubuh bukan hanya soal cedera fisik. Proses pemulihan terhambat karena bahan baku prostetik hampir tidak masuk secara memadai. Situasi ini membuat pusat layanan kesulitan menolong pasien yang jumlahnya terus bertambah.

Angka amputasi dan temuan WHO

Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan lebih dari enam ribu orang telah diamputasi sejak awal konflik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menambahkan data terpisah: sebanyak 2.277 penyandang amputasi diperiksa kondisinya dalam periode September 2024 hingga Mei 2026.

Dari pemeriksaan WHO tersebut, sekitar 18 persen adalah anak-anak. Sebanyak 76 persen kasus melibatkan anggota tubuh bagian bawah. Proporsi ini menegaskan bahwa kebutuhan kaki palsu jauh lebih mendesak dibanding jenis prostetik lainnya.

Anak-anak butuh penyesuaian berkala

Husni Muhanna, petugas media dan humas Pusat Prostetik dan Paralisis Gaza, menjelaskan anak-anak mencakup sekitar 25 persen penerima layanan di fasilitasnya. Penanganan mereka lebih rumit karena tubuh masih tumbuh.

Kaki palsu untuk anak harus diganti atau disesuaikan secara berkala. Tanpa rehabilitasi khusus dan pengukuran ulang, anak-anak berisiko mengalami gangguan postur, nyeri, dan hambatan mobilitas jangka panjang. Keterbatasan staf dan bahan membuat jadwal penyesuaian sering molor.

Kelangkaan gips dan bahan produksi

Pembatasan masuknya pasokan medis dan teknis disebut sangat membatasi kapasitas pusat prostetik. Bahan untuk mencetak dan merakit kaki palsu, termasuk gips pada tahap krusial produksi, mengalami kekurangan parah.

Akibatnya, antrean pasien memanjang. Peralatan rusak sulit diganti, dan stok komponen habis tanpa kepastian pengiriman berikutnya. Pusat layanan terpaksa memprioritaskan kasus paling berat, sementara banyak korban lain menunggu tanpa kepastian waktu.

  • Lebih dari 6.000 kasus amputasi menurut data setempat
  • 2.277 pasien diperiksa WHO dalam rentang September 2024–Mei 2026
  • 76 persen amputasi mengenai anggota gerak bawah
  • Sekitar seperempat penerima layanan di pusat prostetik adalah anak-anak

Mengapa isu ini relevan bagi pembaca Surabaya

Warga Surabaya dan Jawa Timur kerap mengikuti perkembangan Timur Tengah melalui portal daerah dan diskusi komunitas. Informasi akurat soal beban kesehatan di Gaza membantu publik memahami skala krisis tanpa bergantung pada rumor. Isu amputasi dan kelangkaan kaki palsu juga menyoroti pentingnya jalur bantuan medis yang aman dan berkelanjutan.

Meski jarak geografis jauh, berita ini mengingatkan bahwa akses alat bantu gerak adalah bagian dari hak dasar kesehatan. Transparansi data dari kementerian setempat dan WHO memberi gambaran yang lebih jelas bagi pembaca yang ingin mengikuti isu kemanusiaan secara proporsional.

Ke depan, pemulihan mobilitas korban bergantung pada kelancaran pasokan bahan prostetik, pelatihan tenaga rehabilitasi, serta jaminan keamanan bagi fasilitas kesehatan. Tanpa itu, ribuan penyandang amputasi—termasuk anak-anak—akan terus menghadapi hambatan berat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Sumber: Sindo News.

Tag: amputasi Gaza, kaki palsu, krisis kesehatan, WHO, Jalur Gaza, bantuan medis, rehabilitasi, kemanusiaan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *