Inovasi olahan lele zero waste dari mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) membuka peluang ekonomi baru bagi pembudidaya di Kelurahan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten. Melalui program LESTARI atau Lele Sehat Tigaraksa Mandiri, Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan UPH mengolah bagian ikan yang selama ini terbuang menjadi produk bernilai jual.
Bagi pembaca di Surabaya dan Jawa Timur, model pemberdayaan semacam ini menarik dicermati karena budidaya lele juga banyak dijumpai di kawasan pedesaan Jatim. Pendekatan yang sama—memanfaatkan hampir seluruh bagian ikan—bisa menjadi referensi bagi kelompok UMKM pangan lokal tanpa meniru skema yang sama persis.
Potensi kolam lele yang belum optimal
Tigaraksa memiliki sekitar 600 kolam lele yang dikelola 25 kelompok pembudidaya. Selama ini penjualan masih bertumpu pada daging. Tulang, kepala, kulit, dan sisa organik kerap dianggap limbah, padahal volume produksinya cukup besar.
Ketua Tim PPK Ormawa HMPS Teknologi Pangan UPH, Joanna Faleshia, menjelaskan bahwa kondisi tersebut menjadi titik berangkat program. Tim ingin memastikan setiap bagian ikan memberi manfaat ekonomi, bukan hanya menambah beban lingkungan.
Produk turunan dari tulang, kulit, dan sisa organik
Dalam skema zero waste, tulang dan kepala lele diolah menjadi cookies. Kulit diubah menjadi keripik. Bagian organik tersisa dialihkan sebagai bahan pupuk. Target tim adalah memanfaatkan hingga 90 persen bagian ikan lele, sekaligus menciptakan ragam produk olahan baru di tingkat komunitas.
Selain formulasi produk, mahasiswa memberi dampingan pengelolaan usaha. Materi mencakup legalitas, branding, pemasaran digital, dan efisiensi produksi. Sebanyak 40 warga dari kelompok pembudidaya, pengolah lele, PKK, Karang Taruna, serta pelaku UMKM ikut dilibatkan.
- Cookies berbahan tulang dan kepala lele
- Keripik dari kulit lele
- Pupuk dari sisa organik
Hibah PPK Ormawa dan dukungan kampus
Program LESTARI memperoleh hibah Rp24,8 juta melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. UPH menambahkan dukungan pendanaan Rp10 juta.
Kegiatan tidak monodisiplin. Sebanyak 16 mahasiswa dari tujuh program studi bergabung, yaitu Teknologi Pangan, Manajemen, Teknik Industri, Teknik Elektro, Desain Komunikasi Visual, Teknik Sipil, dan Hukum. Kolaborasi itu memperkuat sisi teknis pangan, tata kelola usaha, hingga aspek legal.
Dampak omzet dan arah keberlanjutan
Sebelum program berjalan, omzet masyarakat diperkirakan berkisar Rp700 ribu hingga Rp900 ribu per minggu. Setelah produk turunan dikembangkan dan pemasaran diperbaiki, omzet naik hingga sekitar Rp3,4 juta per minggu. Angka tersebut menjadi indikator awal bahwa nilai tambah dari limbah dapat terasa di tingkat rumah tangga pembudidaya.
Dosen pembimbing, Prof. Dr. Ir. Adolf J. N. Parhusip, M.Si., menekankan bahwa zero waste bukan sekadar mengurangi sampah. Pendekatan ini mendorong pemanfaatan bahan secara efisien dan berkelanjutan, sekaligus menanamkan pola pikir wirausaha berbasis sumber daya lokal.
Melalui LESTARI, pengetahuan kampus dihubungkan langsung dengan kebutuhan warga Tigaraksa. Harapannya, kelompok pengolah lele mampu menjalankan usaha secara mandiri setelah masa pendampingan berakhir. Pola serupa—meski dengan komoditas berbeda—dapat menjadi bahan diskusi bagi komunitas mahasiswa dan UMKM di Surabaya yang ingin menekan limbah pangan sekaligus menaikkan nilai jual.
Sumber: Okezone.
