Program penataan kawasan padat di ibu kota kembali menunjukkan progres nyata. Huntara di Jalan Kramat Raya, Jakarta, kini menjadi tempat tinggal sementara bagi warga yang sebelumnya bermukim di bantaran rel kereta api kawasan Pasar Gaplok, Senen. Fokus kata huntara kramat raya semakin relevan bagi pembaca di Surabaya yang mengikuti isu penataan permukiman padat di kota-kota besar.
Data resmi per Selasa, 8 September 2026, mencatat dari 324 unit yang disiapkan, 69 unit telah dihuni 69 kepala keluarga atau total 275 orang. Mereka mulai menempati hunian itu sejak akhir Juni 2026. Perpindahan ini menandai babak baru setelah bertahun-tahun hidup di dekat jalur kereta.
Fasilitas Dasar yang Sudah Bisa Dipakai
Di kompleks hunian sementara tersebut, sejumlah fasilitas penunjang sehari-hari sudah beroperasi. Taman bermain anak dan dapur bersama dapat digunakan warga. Keberadaan dapur komunal memudahkan aktivitas memasak kolektif, sementara area bermain memberi ruang aman bagi anak-anak.
Pemerintah menanggung biaya sewa selama enam bulan pertama. Kebutuhan air bersih dan listrik juga ikut ditanggung pada periode awal itu. Skema ini memberi jeda finansial bagi keluarga yang baru berpindah agar bisa menata kebutuhan rumah tangga tanpa tekanan sewa bulanan.
Perubahan Pola Hidup Setelah Bertahun di Bantaran
Bagi banyak penghuni, pindah dari bantaran rel berarti meninggalkan pola hidup yang sudah lama melekat. Suasana di Huntara terlihat lebih tertata. Aktivitas warga mulai mengalir normal: mengurus anak, memasak bersama, hingga menjaga kebersihan lingkungan unit.
Meski lokasi berada di Jakarta, berita ini menarik perhatian pembaca di Jawa Timur, termasuk Surabaya. Kota-kota besar di Jatim juga menghadapi tantangan serupa terkait permukiman sempadan jalur transportasi. Pengalaman penataan di Senen bisa menjadi bahan perbandingan kebijakan daerah.
Kapasitas Masih Tersedia untuk Keluarga Lain
Dengan 324 unit disiapkan dan baru 69 yang terisi, masih terbuka ruang bagi keluarga lain yang memenuhi kriteria. Proses penempatan bertahap memungkinkan petugas menyesuaikan kapasitas layanan dengan jumlah penghuni aktual.
Warga yang sudah menempati unit dilaporkan mulai memanfaatkan fasilitas secara kolektif. Interaksi antar-keluarga di dapur bersama dan area terbuka membantu proses adaptasi sosial di lingkungan baru yang lebih formal dibanding bantaran rel.
Artinya bagi Penataan Kota Besar
Langkah memindahkan warga dari bantaran rel ke huntara mencerminkan upaya mengurangi risiko keselamatan di sempadan jalur kereta sekaligus memperbaiki kualitas hunian. Enam bulan bebas sewa plus utilitas dasar menjadi instrumen penting agar perpindahan tidak menambah beban ekonomi mendadak.
Bagi masyarakat Surabaya dan Jatim yang menyimak isu urbanisasi, model huntara dengan fasilitas komunal ini memberi gambaran konkret bagaimana pemerintah daerah dan pusat bisa mengombinasikan relokasi dengan dukungan biaya awal. Keberlanjutan setelah masa gratis enam bulan kelak akan menjadi tahap berikutnya yang perlu dipantau.
Secara keseluruhan, hunian di Jalan Kramat Raya telah memberi ruang lebih aman dan terorganisasi bagi 275 orang dari 69 keluarga eks Pasar Gaplok, Senen. Proses menata hidup baru masih berlangsung, namun fondasi fasilitas dasar sudah tersedia sejak mereka menempati unit pada akhir Juni 2026.
Sumber: Liputan6.
