Tag: ADAS

  • Honda Perkuat Kendali Mutu saat Persaingan Mobil China Memanas

    Honda Perkuat Kendali Mutu saat Persaingan Mobil China Memanas

    Persaingan otomotif global yang kian ketat mendorong Honda menata ulang strategi kendali mutu Honda di seluruh rantai produk. Langkah itu diambil agar pengembangan mesin, komponen, dan perangkat lunak tidak mengorbankan keandalan, sementara merek-merek asal Tiongkok dan India terus mempercepat inovasi. Bagi pembaca di Surabaya dan Jawa Timur yang mengikuti pasar mobil modern, isu ini relevan karena pilihan kendaraan kini semakin ditentukan oleh kualitas jangka panjang, bukan sekadar fitur baru.

    Perubahan arah tersebut disampaikan pejabat senior Honda seiring meningkatnya kompleksitas kendaraan. Sistem bantuan pengemudi, pembaruan perangkat lunak, serta integrasi komponen elektronik membuat risiko cacat produk lebih sulit dikendalikan jika proses pengembangan terlalu dipercepat tanpa jaring pengaman mutu yang ketat.

    Alasan Honda Memperketat Pengendalian Mutu

    Menurut paparan yang dikutip laporan The Drive, pendekatan baru Honda dijelaskan Noriya Kaihara, Wakil Presiden Eksekutif Honda Motor, bersama Eiji Fujimura, Presiden sekaligus CEO American Honda. Mereka menekankan bahwa kendaraan modern menuntut pengawasan lebih ketat pada mesin, suku cadang, dan perangkat lunak agar masalah besar tidak terulang di pasar.

    Fujimura mengakui Tiongkok saat ini unggul di sejumlah bidang teknologi otomotif. Honda merespons dengan menempatkan tim di negara tersebut untuk mempelajari metode manufaktur dan inovasi terkini, tanpa melepaskan standar keandalan yang selama ini menjadi modal kepercayaan pelanggan.

    Tekanan Kompetisi dari China dan India

    Produsen Jepang menghadapi desakan untuk mempercepat peluncuran teknologi baru agar tidak tertinggal dari pabrikan China dan India. Siklus inovasi, terutama pada perangkat lunak dan sistem ADAS, bergerak sangat cepat sehingga jeda sedikit saja bisa menggeser posisi merek di mata konsumen global.

    Meski demikian, Honda menolak mempercepat pengembangan semata-mata demi mengejar kecepatan pesaing. Loyalitas pelanggan yang tinggi dinilai sebagai aset yang tidak boleh dikorbankan. Kepercayaan itu justru menjadi pembeda ketika pasar dibanjiri opsi kendaraan berfitur canggih dengan harga kompetitif.

    Fokus pada Perangkat Lunak dan ADAS

    Transformasi terbesar terjadi di ranah perangkat lunak. Honda menilai persaingan kini tidak hanya soal mesin atau desain bodi, tetapi kemampuan menghadirkan sistem bantuan pengemudi tingkat lanjut dan platform kendaraan generasi berikutnya yang stabil serta aman digunakan sehari-hari.

    Dengan menempatkan sumber daya di Tiongkok, perusahaan berupaya memahami pola pengembangan dan produksi yang membuat sejumlah merek setempat bergerak lebih gesit. Hasil pembelajaran itu kemudian diselaraskan dengan protokol mutu internal agar produk tetap konsisten di berbagai pasar, termasuk Indonesia.

    Implikasi bagi Konsumen dan Pasar Domestik

    Bagi calon pembeli di Surabaya, pilihan mobil semakin banyak diisi merek global dan pemain baru yang menonjolkan teknologi. Strategi Honda mengingatkan bahwa kecepatan inovasi perlu diimbangi pengujian dan pengendalian mutu agar biaya kepemilikan jangka panjang tetap terkendali.

    • Pengawasan lebih ketat pada mesin dan komponen inti
    • Peningkatan kontrol kualitas perangkat lunak kendaraan
    • Pembelajaran teknologi dan manufaktur di Tiongkok
    • Penjagaan loyalitas pelanggan sebagai prioritas merek

    Pendekatan ini juga memberi sinyal ke industri bahwa keandalan tetap menjadi argumen penjualan yang kuat di tengah gempuran fitur dan harga. Konsumen yang teliti biasanya menimbang rekam jejak purna jual, ketersediaan suku cadang, serta stabilitas sistem elektronik sebelum memutuskan pembelian.

    Ke depan, keberhasilan Honda akan diukur dari kemampuannya menyeimbangkan dua tuntutan sekaligus: tidak ketinggalan di lintasan perangkat lunak dan ADAS, serta menjaga reputasi produk yang jarang memunculkan masalah besar. Jika kendali mutu berjalan konsisten, merek tersebut berpeluang mempertahankan basis pelanggan setia sambil menyesuaikan diri dengan peta persaingan baru dari Asia.

    Ringkasnya, langkah memperketat sistem mutu adalah respons strategis terhadap kompleksitas kendaraan modern dan tekanan kompetitor China serta India. Honda memilih jalur hati-hati: belajar dari dinamika industri, mempercepat kapasitas teknologi, namun menolak mengorbankan kepercayaan yang sudah dibangun bertahun-tahun.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: Honda, mutu otomotif, mobil China, persaingan otomotif, ADAS, perangkat lunak mobil, pasar mobil Indonesia, industri otomotif

  • Banyak Fitur Mobil Modern Menganggur, Pengemudi Sering Mematikannya

    Banyak Fitur Mobil Modern Menganggur, Pengemudi Sering Mematikannya

    Tren fitur mobil modern terus meningkat seiring produsen saling bersaing menambah teknologi keselamatan dan kenyamanan. Namun data terbaru memperlihatkan kenyataan lain: sebagian besar pemilik justru jarang, bahkan tidak pernah, mengaktifkan perangkat yang sudah dibayar mahal. Temuan ini relevan juga bagi pengendara di kota padat seperti Surabaya yang semakin akrab dengan mobil berteknologi tinggi.

    Perusahaan riset pasar Censuswide menanyai 1.350 pengemudi di Inggris pada musim panas 2026. Hasilnya menegaskan bahwa banyak sistem bantuan pengemudi tingkat lanjut atau ADAS hampir tidak menyentuh rutinitas harian di belakang setir. Alih-alih menjadi andalan, fitur-fitur itu sering dibiarkan mati sejak mesin dihidupkan.

    Angka yang mengungkap pemborosan teknologi

    Dari responden yang mobilnya dilengkapi adaptive cruise control, 25,9 persen mengaku belum pernah memakai fitur tersebut sama sekali. Tujuh persen lainnya menyatakan tidak tahu cara mengoperasikannya. Angka ini menggambarkan kesenjangan antara spek yang dipasarkan dan kebiasaan nyata di jalan.

    Bantuan menjaga lajur juga tidak luput dari penolakan. Hampir 18 persen pengguna tidak memanfaatkan lane keep assist. Sementara itu, 21,3 persen pengemudi sepenuhnya mematikan pengereman darurat otomatis. Keluhan yang berulang adalah sistem dianggap terlalu sensitif sehingga justru menimbulkan gangguan, bukan rasa aman.

    Mengapa pengemudi memilih menonaktifkan ADAS

    Banyak pengemudi merasa peringatan visual dan bunyi dari sensor terlalu sering muncul di lalu lintas padat atau saat manuver biasa. Akibatnya, mereka memilih mematikan fitur setelah masuk kabin agar perjalanan terasa lebih tenang. Kebiasaan ini berulang setiap kali mobil dinyalakan, sehingga investasi teknologi tidak pernah benar-benar teruji di lapangan.

    Kurangnya pemahaman cara pakai juga menjadi faktor. Manual pemilik yang tebal dan menu layar yang rumit membuat sebagian orang enggan mencoba. Tanpa edukasi singkat saat serah terima unit, fitur canggih hanya menjadi ornamen digital di dasbor.

    Pelajaran untuk pasar otomotif dan pengendara kota

    Bagi industri otomotif, temuan survei ini menjadi pengingat bahwa menumpuk spek belum tentu meningkatkan keselamatan jika pengguna tidak dilibatkan. Produsen dan diler perlu menyederhanakan antarmuka serta memberi pelatihan singkat yang mudah diingat. Bagi pembeli, memilih paket fitur sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan harian, bukan sekadar mengejar daftar panjang di brosur.

    Di kawasan urban seperti Surabaya, lalu lintas macet dan jalur yang sering berubah membuat kepekaan sensor ADAS mudah memicu peringatan berlebih. Pengemudi yang memahami batas sistem akan lebih bijak mengatur kapan fitur diaktifkan, misalnya di tol antar kota, dan kapan mode manual lebih nyaman di jalan sempit dalam kota.

    • Adaptive cruise control: 25,9% tidak pernah memakai; 7% tidak tahu cara pakai
    • Bantuan jaga lajur: hampir 18% tidak menggunakan
    • Pengereman darurat otomatis: 21,3% mematikannya sepenuhnya

    Langkah praktis agar fitur tidak sia-sia

    Sebelum mematikan semua bantuan elektronik, ada baiknya pengemudi mencoba satu fitur dalam kondisi aman, misalnya di jalan raya sepi. Menyesuaikan tingkat kepekaan lewat menu pengaturan—jika tersedia—sering mengurangi rasa terganggu. Membaca ringkasan panduan digital di aplikasi pabrikan juga lebih cepat dibanding membuka buku manual tebal.

    Pada akhirnya, fitur keselamatan hanya bermanfaat jika dihidupkan dan dipahami. Survei Censuswide menjadi cermin bagi pemilik mobil baru: teknologi di kabin tidak otomatis membuat perjalanan lebih aman tanpa partisipasi aktif pengemudi. Membeli spek canggih patut diimbangi kebiasaan belajar singkat agar investasi tidak menganggur di balik tombol yang selalu dimatikan.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: fitur mobil, ADAS, keselamatan berkendara, adaptive cruise control, pengereman darurat, survei pengemudi, teknologi otomotif