Category: Jatim

  • Semeru Erupsi Pagi Hari, Abu Vulkanik Menjulang Satu Kilometer di Atas Puncak

    Semeru Erupsi Pagi Hari, Abu Vulkanik Menjulang Satu Kilometer di Atas Puncak

    Erupsi Gunung Semeru kembali tercatat di Jawa Timur pada Minggu pagi, 6 September 2026, menyusul rangkaian aktivitas vulkanik di sejumlah gunung api Indonesia. Kolom abu vulkanik teramati menjulang sekitar 1.000 meter di atas puncak, menjadi perhatian warga Malang, Lumajang, hingga pembaca di Surabaya yang memantau kondisi wilayah Jatim.

    Letusan terjadi pukul 07.51 WIB. Petugas Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru, Sigit Rian Alfian, melaporkan material abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Arah sebaran abu bergerak ke timur, menjauh dari jalur barat yang lebih dekat ke sejumlah pusat aktivitas warga.

    Data seismik dan durasi letusan

    Getaran erupsi terekam jelas pada seismograf. Amplitudo maksimum mencapai 23 milimeter, menandai energi letusan yang cukup terasa di stasiun pengamatan. Aktivitas peletusan berlangsung selama 102 detik sebelum mereda.

    Angka tersebut menjadi acuan awal bagi analisis lanjutan Pusat Vulkanologi. Warga di sekitar lereng diminta tetap merujuk informasi resmi, bukan spekulasi di media sosial, agar langkah antisipasi tepat sasaran.

    Lokasi Semeru dan konteks beruntunnya erupsi

    Gunung Semeru berada di wilayah Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur. Posisi strategis itu membuat setiap erupsi berdampak langsung pada lalu lintas lokal, pertanian, serta kewaspadaan desa-desa di radius tertentu.

    Sebelum Semeru, publik sudah menyoroti aktivitas Gunung Sinabung dan Gunung Anak Krakatau. Rangkaian peristiwa itu menegaskan bahwa pemantauan gunung api di Indonesia harus berjalan berkesinambungan, termasuk di jalur yang kerap dilalui warga Jatim.

    Arah abu dan dampak bagi warga sekitar

    Kolom abu tebal yang bergerak ke timur perlu diwaspadai penduduk di jalur tersebut. Debu vulkanik dapat mengganggu pernapasan, mengurangi jarak pandang di jalan, serta menempel pada atap rumah dan lahan pertanian bila hujan abu berlangsung lebih lama.

    Bagi pembaca di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur, kondisi angin dan prakiraan cuaca harian tetap relevan dipantau. Meskipun sebaran utama mengarah ke timur, perubahan angin setempat bisa memperluas jangkauan partikel halus dalam skala terbatas.

    • Gunakan masker bila berada di area berdebu.
    • Amankan sumber air dan jemuran dari endapan abu.
    • Ikuti arahan BPBD serta PGA Semeru terkait radius aman.

    Imbauan kewaspadaan untuk warga Jawa Timur

    Status dan rekomendasi resmi dari otoritas gunung api menjadi rujukan utama. Pendaki, pengelola wisata lereng, serta pelaku transportasi di koridor Malang–Lumajang disarankan menunda aktivitas berisiko hingga kondisi dinyatakan lebih stabil.

    Masyarakat di Surabaya yang memiliki keluarga di sekitar Semeru dapat membantu dengan menyebarkan informasi verifikasi, bukan rumor. Koordinasi antardaerah di Jatim mempercepat respons bila diperlukan penanganan abu atau bantuan logistik ringan.

    Pemantauan visual dan instrumental akan terus dilakukan PGA Semeru. Setiap perkembangan amplitude, tinggi kolom abu, maupun arah angin baru akan diumumkan melalui kanal resmi agar warga tidak lengah maupun panik berlebihan.

    Dengan data letusan pukul 07.51 WIB, tinggi abu sekitar satu kilometer, amplitudo 23 milimeter, dan durasi 102 detik, erupsi ini menjadi pengingat bahwa Semeru aktif dan menuntut disiplin informasi. Kewaspadaan kolektif warga Malang, Lumajang, dan seluruh Jawa Timur tetap menjadi kunci mitigasi dini.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: erupsi Semeru, Gunung Semeru, abu vulkanik, Malang Lumajang, Jawa Timur, PGA Semeru, mitigasi bencana

  • BGN Sebut Dapur MBG Kalitengah Lalai Disengaja Picu Keracunan Massal di Sidoarjo

    BGN Sebut Dapur MBG Kalitengah Lalai Disengaja Picu Keracunan Massal di Sidoarjo

    Temuan baru soal dugaan keracunan MBG Sidoarjo membuat publik Jatim, termasuk warga Surabaya yang pantau isu gizi sekolah, kembali fokus pada tata kelola dapur program. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan ada unsur kelalaian yang disengaja di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Kalitengah sehingga ratusan siswa terdampak.

    Pernyataan itu disampaikan Sudaryono melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Kamis, 3 September 2026. Ia menekankan aturan, petunjuk pelaksanaan, dan tata cara sudah diberikan, namun praktik di lapangan menyimpang dari standar keamanan pangan yang ditetapkan.

    Temuan BGN soal manipulasi waktu matang makanan

    Menurut penelusuran sementara BGN, makanan matang pukul 05.00 WIB. Batas aman konsumsi seharusnya sebelum pukul 09.00 WIB. Namun, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah mencatat seolah makanan baru matang pukul 08.00 WIB sehingga batas konsumsi digeser menjadi pukul 10.00 WIB.

    Pencatatan tersebut dinilai menyesatkan karena mengubah acuan waktu yang dipakai petugas lapangan maupun penerima makanan. Sudaryono menyebut pola ini sebagai bentuk kelalaian yang disengaja, bukan sekadar kesalahan administratif biasa.

    Distribusi terlambat dan konsumsi lewat batas aman

    Fakta di lapangan menunjukkan ompreng makanan dikirim ke sekolah sekitar pukul 11.30 hingga 11.40 WIB. Para siswa baru mengonsumsi makanan tersebut setelah pukul 12.00 WIB, jauh melewati batas yang seharusnya.

    Rentang waktu dari proses memasak dini hari hingga santap siang itulah yang dikaitkan BGN dengan risiko keracunan massal. Makanan matang yang tertahan terlalu lama tanpa kontrol suhu dan label yang jelas berpotensi merusak mutu gizi sekaligus meningkatkan bahaya mikrobiologis.

    Label batas konsumsi hanya di satu ompreng

    Selain persoalan waktu, BGN menyoroti cara pelabelan. Keterangan jam matang dan batas maksimal makan tidak ditempel di setiap wadah. Label hanya ada di satu ompreng paling atas, lalu difoto dan dimasukkan ke sistem pelaporan.

    Akibatnya, santri dan siswa tidak mendapat informasi langsung di wadah masing-masing. Ketika tumpukan makanan dibagikan, penerima sulit memastikan apakah sajian masih dalam jendela waktu aman. Celah ini dinilai memperbesar risiko konsumsi makanan yang sudah kadaluarsa secara operasional.

    • Makanan matang pukul 05.00 WIB, idealnya habis sebelum pukul 09.00 WIB
    • Laporan dicatat seolah matang pukul 08.00 WIB berbatas pukul 10.00 WIB
    • Pengiriman sekitar pukul 11.40 WIB, dikonsumsi setelah pukul 12.00 WIB
    • Label waktu tidak merata di seluruh ompreng

    Imbas di Sidoarjo dan perhatian warga Surabaya

    Kasus di Sidoarjo menjadi alarm bagi wilayah sekitar, termasuk Surabaya, yang turut menjalankan program serupa di sekolah dan pesantren. Orang tua dan pengelola lembaga pendidikan di kawasan metropolitan ini umumnya menuntut kepastian rantai dingin, ketepatan waktu antar, serta pelabelan utuh pada setiap porsi.

    BGN menegaskan prosedur sudah sosialisasi lengkap. Penekanan Sudaryono mengarah pada disiplin pelaksanaan di dapur mitra, bukan pada ketiadaan aturan. Transparansi laporan waktu masak, pengiriman, dan serah terima menjadi kunci agar insiden serupa tidak berulang di Jawa Timur.

    Untuk pembaca Kabar Jatim, intinya jelas: dugaan keracunan MBG Sidoarjo dipicu rangkaian penyimpangan waktu distribusi dan pelabelan yang tidak merata. Pengawasan ketat terhadap SPPG serta verifikasi lapangan berkala dinilai mendesak agar program gizi gratis tetap aman bagi siswa.

    Kejadian ini juga mengingatkan sekolah dan pesantren di Sidoarjo raya agar menolak menerima pasokan yang sudah melampaui batas konsumsi tertera, serta mencatat jam terima secara mandiri sebagai kontrol silang.

    Sumber: Liputan6.

    Tag: keracunan MBG Sidoarjo, dapur MBG Kalitengah, Badan Gizi Nasional, Sudaryono BGN, makan bergizi gratis, SPPG Sidoarjo, keamanan pangan sekolah

  • Maulid Nabi di Jawa Timur: Saat Cinta Rasul Menuntut Aksi Nyata

    Maulid Nabi di Jawa Timur: Saat Cinta Rasul Menuntut Aksi Nyata

    Setiap memasuki Rabiul Awal, peringatan Maulid Nabi Jatim kembali meramaikan masjid, majelis, dan ruang publik. Umat Islam di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur memperbanyak shalawat, menggelar tabligh, hingga pawai. Semarak itu sahih sebagai ekspresi kecintaan. Namun, banyak pengamat keagamaan mengingatkan agar momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak berhenti di lapisan ritual dan emosi semata.

    Cinta kepada Rasulullah sering dipahami sebatas meniru akhlak mulia dalam kehidupan pribadi. Pendekatan itu penting, tetapi belum menyentuh inti yang lebih dalam: membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu dan penghambaan kepada selain Allah, serta mendorong perubahan tatanan yang jauh dari nilai Islam menuju sistem yang menegaskan ketaatan hanya kepada Sang Pencipta.

    Ritual tahunan yang perlu diisi makna perjuangan

    Di Surabaya, suasana Maulid terasa akrab di kampung, pondok, dan masjid besar. Aktivitas kolektif mempererat ukhuwah. Persoalannya muncul ketika substansi hanya berputar pada seremoni. Tanpa arah yang jelas, peringatan berisiko menjadi rutinitas tahunan yang menghangatkan hati sesaat, lalu redup tanpa bekas pada cara pandang dan perilaku sosial umat.

    Padahal sejarah kenabian menampilkan sosok yang tak hanya lembut dalam pergaulan, tetapi konsisten mengajak masyarakat keluar dari sistem jahiliah. Meneladani beliau berarti mengaitkan diri pada semangat syiar, bukan hanya mengenang tanggal lahir. Bagi pembaca di kawasan metropolitan Jawa Timur, pertanyaan sederhana bisa diajukan: apakah peringatan tahun ini mengubah cara kita menyikapi ketidakadilan dan kerusakan di sekitar?

    Kesadaran kerusakan dan arah metode yang tepat

    Sebagian umat sudah merasakan dampak kerusakan sosial dan ekonomi di lingkungan sehari-hari. Tuntutan perubahan pun muncul di berbagai forum. Celah besar terletak pada arah dan metode. Jika cara yang ditempuh menjauh dari manhaj perjuangan Rasulullah, hasilnya mudah terseret arus yang justru memperkuat sistem lama.

    Dalam kehidupan modern, penghambaan kepada selain Allah kerap berjalan sistemik lewat logika kapitalisme, demokrasi prosedural, dan liberalisme yang menempatkan kebebasan individu serta materi sebagai orientasi utama. Pihak yang diuntungkan sistem itu cenderung mempertahankan status quo. Suara yang menyerukan kebangkitan nilai Islam pun rawan diredam. Karena itu, Maulid layak dijadikan titik balik kesadaran, bukan sekadar perayaan.

    Ittiba yang menuntut keterikatan pada syariat

    Makna ittiba’ atau mengikuti Nabi bukan terbatas pada amalan sunah ritual. Ia menuntut keterikatan pada syariat dan metode dakwah yang beliau tempuh. Al-Qur’an dalam surah Ali Imran ayat 31 menegaskan bahwa cinta kepada Allah dibuktikan dengan mengikuti Rasul, sehingga Allah mencintai dan mengampuni dosa hamba-Nya. Ayat itu menjadi kompas agar Maulid tidak kosong dari komitmen.

    Metode dakwah Rasulullah dikenal melalui tahapan pembinaan kader (tasqif), interaksi luas dengan umat (tafa’ul ma’al ummah), lalu kesiapan menerima amanah kepemimpinan (istilamul hukmi). Tahapan itu menuntut kesabaran, kejelasan ide, dan kerja kolektif. Umat di Jawa Timur yang aktif di majelis taklim dan organisasi keagamaan memiliki modal sosial untuk mengisi tahapan pembinaan dan interaksi secara teratur, tanpa perlu menunggu momen spektakuler.

    • Memperkuat kajian yang mengaitkan akhlak dengan sistem kehidupan
    • Menjaga ukhuwah tanpa kehilangan arah ideologis yang jelas
    • Menjadikan shalawat pendorong amal, bukan pengganti kerja dakwah
    • Mengajak generasi muda memahami sejarah perjuangan Nabi secara utuh

    Rahmat untuk alam dan tanggung jawab lokal

    Firman dalam surah Al-Anbiya ayat 107 mengingatkan bahwa Nabi diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rahmat itu hadir utuh ketika nilai Islam menyentuh tata kelola, ekonomi, pendidikan, dan hubungan sosial, bukan hanya ruang ibadah formal. Di kota-kota Jawa Timur, termasuk Surabaya yang majemuk, pesan rahmat justru relevan: dakwah yang santun, tegas pada prinsip, serta solutif terhadap problem warga.

    Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi Jatim dapat menjadi laboratorium kecil kesadaran kolektif. Masyarakat diajak menilai ulang orientasi hidup yang terlalu materialistik, sekaligus merapikan niat agar setiap pengajian dan kegiatan Maulid mengarah pada perbaikan nyata. Cinta yang autentik kepada Rasulullah teruji pada kesediaan mengemban misi yang sama: menegakkan ketaatan kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

    Pada akhirnya, bulan Rabiul Awal adalah undangan tahunan untuk kembali menimbang prioritas. Jika shalawat berkumandang di surau dan jalan protokol Surabaya, biarlah gema itu mengingatkan bahwa perjuangan syiar belum selesai. Umat diajak melangkah lebih jauh dari seremoni, menyambung estafet dakwah, dan menjaga harapan agar Islam kembali hadir sebagai rahmat yang terasa dalam kehidupan sehari-hari.

    Sumber: Republika.

    Tag: maulid nabi, jawa timur, teladan rasulullah, dakwah islam, surabaya, rabiul awal, syiar islam, ittiba

  • Santriwati Manbaul Hikam Ceritakan Menu MBG Asam Sebelum Ratusan Temannya Dirawat

    Santriwati Manbaul Hikam Ceritakan Menu MBG Asam Sebelum Ratusan Temannya Dirawat

    Kasus dugaan keracunan MBG Sidoarjo kembali menyita perhatian warga Gerbangkertosusila setelah ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Kecamatan Tanggulangin mengalami keluhan kesehatan serupa. Makan siang program Makanan Bergizi Gratis yang dibagikan sekitar pukul 13.00 WIB justru menjadi titik awal rangkaian gejala yang muncul beberapa jam kemudian. Bagi pembaca di Surabaya dan sekitarnya, peristiwa di kabupaten tetangga ini relevan karena rujukan perawatan menyebar ke sejumlah rumah sakit di wilayah Sidoarjo.

    Salah satu santriwati berinisial SZ (15) menuturkan kronologi singkat dari sisi penerima makanan. Ia ingat menu hari itu terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, serta buah apel. Pada awalnya, nasi dan lauk terasa biasa saja. Yang membuatnya berhenti menghabiskan porsi adalah rasa sayur tumis yang dinilai kecut atau asam.

    Menu siang dan bagian yang tidak dihabiskan

    Menurut SZ, waktu makan berlangsung sekitar pukul 13.00 WIB. Ia menekankan bahwa telur orak-arik dan tempe berbumbu Bali tidak terasa pedas maupun aneh. Ketidaknyamanan justru muncul dari tumis buncis. Karena rasa kecut itu, sayur tidak dihabiskan. Kesaksian ini disampaikan saat ia berada di RSUD RT Notopuro, Sidoarjo.

    Pengalaman satu santriwati memang tidak otomatis menjadi kesimpulan laboratorium. Namun, kesamaan waktu makan dan kemunculan keluhan pada banyak santri membuat menu yang sama menjadi fokus perhatian publik. Pihak terkait masih perlu memastikan faktor pemicu secara resmi melalui pemeriksaan medis dan jejak pangan.

    Gejala muncul menjelang sore

    Beberapa jam setelah santap siang, kondisi SZ berubah. Menjelang sore ia merasakan mual, disusul badan lemas dan pusing. Keluhan sejenis juga dialami sejumlah santri lain di pondok yang sama. Mereka kemudian mendapat penanganan medis karena dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG.

    Pola waktu—makan siang serentak, lalu gejala pada sore hari—menjadi catatan penting bagi keluarga santri dan petugas kesehatan. Di kawasan metropolitan Surabaya–Sidoarjo, informasi cepat soal gejala awal membantu orang tua memantau anak yang mondok tanpa panik berlebihan, sambil tetap mengikuti arahan fasilitas kesehatan.

    431 santri dirawat di delapan rumah sakit

    Data yang dihimpun menyebutkan sebanyak 431 santri diduga mengalami keracunan dan menjalani perawatan di delapan rumah sakit rujukan di Sidoarjo. Angka tersebut menunjukkan skala kejadian yang tidak kecil untuk satu lokasi pesantren. Distribusi pasien ke banyak RS juga menggambarkan upaya memecah beban layanan agar penanganan tetap berjalan.

    • Lokasi: Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo
    • Waktu makan MBG: sekitar pukul 13.00 WIB
    • Gejala yang dilaporkan: mual, lemas, pusing
    • Jumlah dirawat: 431 santri di delapan RS Sidoarjo

    Bagi warga Surabaya yang memiliki saudara atau tetangga di pesantren Sidoarjo, angka rujukan ini menjadi sinyal untuk mengikuti perkembangan resmi dari rumah sakit dan pemerintah daerah, bukan hanya dari percakapan media sosial.

    Pengawasan distribusi makanan perlu dipertegas

    Rangkaian kejadian di Manbaul Hikam menambah daftar evaluasi terhadap penyelenggaraan MBG di Jawa Timur. Ketika satu dapur atau titik distribusi memasok banyak penerima, standar kebersihan, suhu penyimpanan, dan uji rasa sebelum dibagikan menjadi krusial. Kesaksian soal sayur yang terasa kecut, meski masih bersifat personal, mengingatkan pentingnya kontrol mutu di tahap akhir sebelum makanan sampai ke santri.

    Pihak pesantren, penyedia makanan, dan instansi pengawas diharapkan menuntaskan pelacakan penyebab agar publik mendapat kepastian. Transparansi hasil pemeriksaan akan menenangkan orang tua di Sidoarjo maupun kota-kota sekitar, termasuk Surabaya, yang sehari-hari terhubung arus pendidikan dan kesehatan lintas kabupaten.

    Sementara perawatan berlangsung, yang paling mendesak adalah pemulihan santri dan pencegahan kejadian berulang. Informasi berimbang—tanpa spekulasi berlebih—tetap dibutuhkan agar program gizi yang semestinya melindungi anak tidak justru menimbulkan kekhawatiran massal.

    Sumber: Liputan6.

    Tag: keracunan MBG, Sidoarjo, Manbaul Hikam, santri, Tanggulangin, makan bergizi gratis, RSUD Sidoarjo

  • Presiden Apresiasi Muktamar NU Jombang Berlangsung Rukun, Gus Kikin Pimpin PBNU

    Presiden Apresiasi Muktamar NU Jombang Berlangsung Rukun, Gus Kikin Pimpin PBNU

    Kabar dari Jombang kembali menjadi sorotan warga Jawa Timur, termasuk pembaca di Surabaya. Presiden Prabowo Subianto memberi apresiasi atas terselenggaranya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dinilai guyub dan damai, sekaligus mengucapkan selamat kepada pimpinan baru Pengurus Besar NU. Acara penutupan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Senin, 31 Agustus 2026.

    Bagi warga Surabaya dan kawasan metropolitan Gerbangkertosusila, perkembangan organisasi keagamaan sebesar NU selalu relevan. Ribuan pesantren dan jaringan warga nahdliyin di Jatim menjadikan hasil muktamar di Jombang sebagai isu yang dekat dengan kehidupan sosial keagamaan sehari-hari.

    Ucapan selamat dan penekanan pada suasana rukun

    Dalam kesempatan penutupan, Presiden menyampaikan ucapan selamat kepada jajaran pimpinan NU yang baru terpilih. Ia menyinggung bahwa muktamar berjalan sukses tanpa perlu uraian panjang, dengan suasana rukun yang patut diapresiasi.

    Prabowo menekankan bahwa NU memberi teladan bagi publik. Perbedaan pendapat dan kompetisi internal, menurutnya, dapat dikelola secara sehat meski organisasi ini menaungi puluhan juta anggota, ribuan pesantren, serta puluhan ribu kiai. Model tersebut dinilai layak menjadi rujukan bagi masyarakat luas di Indonesia.

    Harapan kontribusi nyata untuk bangsa

    Selain memuji kelancaran forum, Presiden juga menantikan darma bakti NU ke depan. Ia menyebut negara, bangsa, dan umat menunggu peran konkret organisasi ini pada hari-hari, bulan-bulan, hingga tahun-tahun mendatang.

    Pesan itu menggarisbawahi bahwa sukses administratif muktamar perlu diikuti kerja nyata di lapangan. Isu pendidikan pesantren, kesejahteraan umat, dan kohesi sosial di daerah seperti Jawa Timur menjadi ruang di mana kontribusi tersebut biasa diharapkan publik.

    Gus Kikin ditetapkan lewat musyawarah mufakat

    Muktamar ke-35 secara resmi menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031. Keputusan dibacakan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) KH Anwar Iskandar di lokasi yang sama di Tambakberas, Jombang.

    Anwar menjelaskan bahwa rapat AHWA pada pagi hari itu merupakan musyawarah mufakat untuk menjalankan mandat muktamar dalam memilih dan menetapkan ketua umum. Secara mufakat, forum memutuskan Gus Kikin sebagai ketua umum untuk periode tersebut.

    Perolehan suara dan izin Rais Aam

    Dalam proses penjaringan calon, nama Gus Kikin tercatat meraih suara terbanyak. Dari 2.397 suara yang masuk, ia memperoleh 472 suara sehingga berada di peringkat teratas dan memenuhi syarat untuk diajukan kepada Rais Aam terpilih, KH Miftachul Akhyar, guna mendapat pernyataan izin tertulis.

    • Lokasi penutupan: Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang
    • Ketua Umum PBNU terpilih: KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)
    • Periode khidmah: 2026–2031
    • Rais Aam terpilih: KH Miftachul Akhyar

    Rangkaian fakta tersebut menegaskan bahwa estafet kepemimpinan PBNU berlangsung melalui mekanisme internal yang telah disepakati peserta muktamar. Bagi pembaca di Surabaya, informasi ini membantu memahami arah kepengurusan NU pusat yang berpengaruh pada jaringan cabang dan ranting di seluruh Jatim.

    Dengan penutupan di Jombang dan apresiasi langsung dari Presiden, Muktamar ke-35 NU menutup babak pemilihan dengan catatan damai. Publik kini menantikan langkah awal kepengurusan baru dalam menjawab harapan kontribusi bagi umat dan bangsa.

    Sumber: Liputan6.

    Tag: Muktamar NU, Jombang, Gus Kikin, PBNU, Prabowo, Jawa Timur, pesantren, Surabaya

  • Muktamar di Jombang Kunci Jeda Politik Setahun bagi Calon Rais Aam dan Ketum NU

    Muktamar di Jombang Kunci Jeda Politik Setahun bagi Calon Rais Aam dan Ketum NU

    Keputusan penting soal masa iddah PBNU lahir di Jombang pada Minggu (30/8/2026). Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama mengesahkan jeda satu tahun dari jabatan politik bagi siapa pun yang ingin maju sebagai calon Rais Aam maupun Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Aturan ini langsung menyita perhatian warga nahdliyin di Jawa Timur, termasuk basis besar di Surabaya dan sekitarnya.

    Sidang Pleno IV berlangsung di Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang. Forum itu dipimpin KH Cholil Nafis. Di hadapan peserta muktamar, ketentuan jeda tersebut dikunci setelah perdebatan seputar Pasal terkait dalam Peraturan Perkumpulan.

    Inti keputusan Sidang Pleno IV

    Pimpinan sidang menetapkan masa iddah bagi calon Rais Aam dan Ketum PBNU dibatasi satu tahun. Artinya, figur yang masih atau baru melepas jabatan politik harus menunggu periode tersebut sebelum bisa diajukan sebagai kandidat pimpinan tertinggi organisasi.

    Langkah ini bukan sekadar formalitas administratif. Ia menyentuh prinsip netralitas dan integritas jam’iyyah agar pemilihan pimpinan tidak tumpang tindih dengan kepentingan politik praktis jangka pendek.

    Suara masyayikh dan rujukan Perkum

    Mewakili unsur masyayikh, KH Muhibbul Aman Aly menegaskan bahwa keputusan iddah dikembalikan ke Peraturan Perkumpulan yang sudah berlaku. Tujuannya jelas: menjaga tegaknya aturan organisasi.

    “Keputusannya terkait Iddah itu dikembalikan ke Perkum semula demi tegaknya Jam’iyyah,” ujarnya sebelum keputusan disahkan oleh KH Cholil Nafis, sebagaimana dilansir dari keterangan resmi yang beredar di forum muktamar.

    Perdebatan pasal iddah sebelum pengesahan

    Sebelum diketok, ketentuan masa iddah calon Rais Aam dan Ketum PBNU dalam Perkum sempat menjadi bahan perdebatan di Sidang Pleno IV. Sebagian peserta menyoroti kejelasan batasan waktu dan cakupan jabatan politik yang dimaksud.

    Setelah pembahasan, forum memilih kembali pada rumusan Perkum yang telah ada, lalu mengesahkannya sebagai bagian dari hasil muktamar. Dengan demikian, satu tahun menjadi patokan resmi yang mengikat proses pencalonan ke depan.

    • Objek aturan: calon Rais Aam dan calon Ketua Umum PBNU
    • Durasi iddah: satu tahun dari jabatan politik
    • Dasar: Peraturan Perkumpulan yang dikembalikan ke rumusan semula
    • Forum pengesah: Sidang Pleno IV Muktamar ke-35 di Tambakberas, Jombang

    Makna bagi nahdliyin Jawa Timur dan Surabaya

    Bagi warga NU di Jawa Timur, keputusan di Jombang ini menjadi rujukan langsung karena muktamar digelar di bumi pesantren yang historis. Surabaya sebagai pusat aktivitas sosial-keagamaan NU di kawasan metropolitan akan merasakan dampaknya pada penjaringan kader dan diskusi internal ranting hingga cabang.

    Aturan jeda diharapkan memperjelas batas antara khidmah organisasi dan arena politik, sehingga proses pemilihan pimpinan PBNU lebih tertib dan terukur. Publik nahdliyin kini menunggu tindak lanjut teknis pencalonan setelah masa iddah resmi berlaku.

    Secara keseluruhan, Muktamar ke-35 menuntaskan satu titik krusial tata kelola: calon pimpinan tertinggi NU wajib bersih dari tumpang tindih jabatan politik setidaknya selama setahun. Keputusan yang lahir di Tambakberas itu kini menjadi pegangan bersama seluruh tingkatan kepengurusan.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: muktamar NU Jombang, masa iddah PBNU, calon ketum NU, Rais Aam, Nahdlatul Ulama Jatim, Sidang Pleno IV, Pondok Tambakberas

  • Jeda Satu Tahun Berlaku: Muktamar NU Jombang Batasi Calon Pimpinan dari Kursi Politik

    Jeda Satu Tahun Berlaku: Muktamar NU Jombang Batasi Calon Pimpinan dari Kursi Politik

    Keputusan penting terkait masa iddah PBNU lahir di Jombang dan langsung menjadi sorotan warga Nahdliyin di Jawa Timur, termasuk Surabaya. Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama menetapkan jeda satu tahun bagi calon Rais Aam maupun Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang berasal dari jabatan politik.

    Ketentuan itu disahkan dalam Sidang Pleno IV di Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Minggu, 30 Agustus 2026. Forum tertinggi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu menempatkan aturan jeda sebagai bagian dari tata kelola kaderisasi pimpinan pusat.

    Inti putusan sidang pleno di Tambakberas

    Sidang pleno menegaskan bahwa calon Rais Aam dan calon Ketua Umum PBNU wajib menjalani masa iddah atau masa jeda selama satu tahun dari jabatan politik. Langkah ini dimaksudkan agar proses pemilihan pimpinan pusat lebih terukur dan tidak tumpang tindih dengan aktivitas politik praktis.

    Lokasi pengesahan di kompleks Pondok Pesantren Tambakberas menambah bobot simbolik keputusan tersebut. Jombang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat tradisi keilmuan NU, sehingga forum muktamar di sana menjadi rujukan bagi pengurus wilayah dan cabang di seluruh Jawa Timur.

    Makna masa iddah bagi calon pimpinan tertinggi

    Dalam konteks keputusan muktamar, masa iddah dipahami sebagai periode jeda formal sebelum seseorang dapat dicalonkan sebagai Rais Aam atau Ketua Umum PBNU. Jangka waktu satu tahun memberi ruang bagi kader untuk menata kembali posisi dan fokus keorganisasian.

    Aturan ini menyasar dua posisi strategis. Rais Aam merepresentasikan kepemimpinan spiritual dan keulamaan, sedangkan Ketua Umum memegang kendali organisasi dan program. Keduanya dianggap perlu dijaga agar jarak dari jabatan politik cukup jelas saat proses pencalonan berlangsung.

    Mengapa keputusan di Jombang relevan bagi warga Surabaya

    Bagi pembaca di Surabaya dan sekitarnya, putusan muktamar berimbas pada dinamika pengurus NU di tingkat wilayah dan cabang. Banyak kader dan simpatisan di ibu kota Jawa Timur mengikuti isu kepemimpinan PBNU karena organisasi ini menopang jaringan pesantren, lembaga pendidikan, dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

    Keputusan yang lahir di Jombang juga menjadi bahan diskusi di lingkungan takmir masjid, majelis taklim, dan forum anak muda NU Surabaya. Transparansi soal syarat pencalonan dinilai membantu mengurangi spekulasi internal menjelang periode kepengurusan berikutnya.

    • Masa iddah berlaku satu tahun dari jabatan politik.
    • Sasaran aturan: calon Rais Aam dan calon Ketua Umum PBNU.
    • Pengesahan dilakukan pada Sidang Pleno IV Muktamar ke-35.
    • Lokasi: GSG Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.

    Dampak pada kaderisasi dan tata kelola organisasi

    Dengan adanya jeda resmi, struktur PBNU memperoleh kerangka yang lebih tegas dalam menyaring calon pimpinan. Kader yang masih aktif di jabatan politik perlu menyesuaikan waktu dan status sebelum masuk bursa pencalonan posisi puncak.

    Di tingkat Jawa Timur, pengurus wilayah dan cabang dapat memakai putusan muktamar sebagai rujukan edukasi internal. Sosialisasi yang rapi membantu anggota memahami bahwa aturan tersebut bukan hambatan personal, melainkan standar bersama yang disahkan forum tertinggi.

    Ke depan, implementasi masa iddah satu tahun akan diuji pada mekanisme pencalonan yang berjalan sesuai hasil muktamar. Warga NU di Surabaya dan daerah lain di Jatim diperkirakan terus memantau tindak lanjut administratif agar putusan sidang pleno benar-benar operasional di lapangan.

    Secara keseluruhan, Muktamar ke-35 di Jombang menorehkan penegasan tata kelola: jarak dari jabatan politik diatur lewat jeda satu tahun bagi calon Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, dengan pengesahan formal di Pondok Pesantren Tambakberas pada 30 Agustus 2026.

    Sumber: Okezone.

    Tag: muktamar NU, masa iddah PBNU, Jombang, Rais Aam, Ketua Umum PBNU, Nahdlatul Ulama, Jawa Timur, Tambakberas

  • Presiden PKS di Muktamar NU Jombang: Jejak Kiai Jadi Pilar Keutuhan Bangsa

    Presiden PKS di Muktamar NU Jombang: Jejak Kiai Jadi Pilar Keutuhan Bangsa

    Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Almuzzammil Yusuf menghadiri pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Kamis, 27 Agustus 2026. Kehadirannya menjadi salah satu sorotan tokoh nasional di forum tertinggi organisasi Islam terbesar di negeri ini, yang juga dekat dengan pembaca di Surabaya dan sekitarnya.

    Forum permusyawaratan itu berlangsung hingga 31 Agustus 2026 dengan tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.” Di hadapan peserta muktamar, Almuzzammil Yusuf menekankan bahwa peran historis NU tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga kehidupan keagamaan sekaligus keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Arti penting muktamar bagi umat dan perjalanan bangsa

    Menurut Presiden PKS, Muktamar NU menyimpan makna strategis bagi umat Islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Ia menilai organisasi yang berakar kuat di pesantren ini telah menempuh perjalanan panjang dalam merawat kerukunan sekaligus memperkuat fondasi kebangsaan.

    Almuzzammil Yusuf menekankan bahwa kehadiran NU di ruang publik tidak muncul secara tiba-tiba. “NU tidak lahir dalam ruang kosong. Ada sejarah panjang perjuangan para ulama dan kiai dalam membangun umat sekaligus menjaga bangsa,” ujarnya di sela rangkaian muktamar di Jombang.

    Warisan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dikenang

    Secara khusus, pemimpin PKS itu mengenang jasa Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Ulama besar tersebut dikenal sebagai pendiri NU sekaligus tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Penghormatan terhadap warisan beliau menjadi bagian dari pesan yang disampaikannya di forum Jombang.

    Dengan menyebut nama pendiri NU, Almuzzammil Yusuf ingin menegaskan bahwa semangat para kiai terdahulu tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman. Ia menempatkan muktamar sebagai ruang refleksi agar generasi kini tidak melupakan akar perjuangan yang menopang kemerdekaan dan keutuhan negara.

    Jombang dan resonansi bagi warga Jawa Timur

    Pemilihan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sebagai lokasi muktamar menegaskan posisi Jawa Timur sebagai salah satu jantung jaringan pesantren NU. Bagi pembaca di Surabaya dan wilayah metropolitan sekitarnya, peristiwa di Jombang ini terasa dekat karena banyak santri, alumni, dan keluarga nahdliyin yang memiliki ikatan dengan pondok-pondok di kawasan tersebut.

    Muktamar ke-35 juga menjadi ajang silaturahmi lintas tokoh. Kehadiran Presiden PKS di tengah forum NU memperlihatkan dialog antarorganisasi yang tetap terjaga, tanpa mengaburkan fakta bahwa agenda utama tetap berada di tangan peserta muktamar hingga penutupan pada 31 Agustus 2026.

    Menjaga marwah dan memperkaya khidmah

    Tema muktamar menggarisbawahi dua kata kunci: marwah dan khidmah. Almuzzammil Yusuf menilai keduanya sejalan dengan sejarah NU yang menjaga martabat keagamaan sambil terus memperluas pengabdian bagi kemaslahatan publik. Ia mengaitkan pesan itu dengan kebutuhan bangsa untuk merawat persatuan di tengah dinamika sosial yang terus berubah.

    Dalam pandangan yang disampaikannya, warisan para kiai bukan sekadar kenangan, melainkan modal moral agar organisasi keagamaan tetap berkontribusi pada stabilitas dan kesejahteraan bersama. Penekanan itu sejalan dengan semangat muktamar yang digelar di tanah Jombang.

    Dengan demikian, kehadiran Presiden PKS di Muktamar ke-35 NU menjadi catatan penting bagi publik Jawa Timur. Pesan tentang sejarah panjang ulama, penghormatan kepada KH Hasyim Asy’ari, serta komitmen menjaga keutuhan NKRI disampaikan di forum yang berlangsung hingga akhir Agustus 2026, dan relevan bagi warga Surabaya yang mengikuti perkembangan ormas Islam di kawasan ini.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: Muktamar NU Jombang, Almuzzammil Yusuf, PKS, Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asyari, pesantren Tambakberas, Jawa Timur

  • Bareskrim Amankan Pemesan Gummy THC Inggris di Malang, Empat Kali Order

    Bareskrim Amankan Pemesan Gummy THC Inggris di Malang, Empat Kali Order

    Peredaran permen ganja Malang kembali menjadi sorotan setelah Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengamankan paket berisi gummy yang mengandung Delta 9 Tetrahydrocannabinol (THC). Kasus ini menyentuh wilayah Jawa Timur dan relevan bagi pembaca Surabaya serta kota sekitar, mengingat Malang menjadi lokasi pengungkapan barang bukti.

    Tersangka yang diamankan bernama Abram Jetro Endiera, warga Bekasi. Informasi awal datang dari Bea Cukai Pasar Baru yang menandai adanya paket mencurigakan pada Selasa, 18 Agustus 2026. Temuan itu kemudian ditindaklanjuti Bareskrim hingga pelaku terjaring.

    Apa yang diamankan polisi di Malang

    Dari tangan tersangka, petugas menyita tiga pouch bermerk AI. Tiap pouch berisi 10 permen gummy yang diuji mengandung senyawa ganja golongan satu, yakni Delta 9 Tetrahydrocannabinol. Barang tersebut merupakan paket milik Abram yang dipesan melalui situs daring.

    Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso menyampaikan penindakan itu kepada wartawan pada Rabu, 26 Agustus 2026. Ia menegaskan fokus penindakan pada peredaran narkotika jenis Delta 9 THC dalam bentuk permen.

    Jalur pemesanan dari Inggris

    Hasil pemeriksaan mengungkap pengakuan tersangka bahwa ia sudah empat kali memesan produk sejenis dari Inggris. Pesanan pertama tercatat 4 Maret 2026 berupa satu pouch berisi 10 permen gummy. Pada 31 Maret 2026, ia juga memesan satu lembar cokelat berisi 30 cokelat LSD.

    Pola berulang ini menunjukkan modus pemesanan jarak jauh lewat website, lalu paket diupayakan masuk ke Indonesia. Pengungkapan di Malang menjadi titik penting karena memutus rantai distribusi sebelum barang menyebar lebih luas di Jawa Timur.

    Peran Bea Cukai dan Bareskrim

    Sinergi Bea Cukai Pasar Baru dengan Bareskrim menjadi kunci awal kasus. Paket mencurigakan tidak dibiarkan lolos, melainkan dilanjutkan ke penindakan pidana narkotika. Pendekatan ini menekan celah penyelundupan narkoba berbentuk makanan atau camilan yang mudah disamarkan.

    Bagi masyarakat Surabaya dan Malang Raya, temuan semacam ini mengingatkan bahwa produk impor kemasan kecil tetap berisiko jika kandungannya dilarang. Narkotika golongan satu memiliki sanksi berat, dan bentuk permen tidak mengubah status hukumnya.

    Imbauan untuk warga Jatim

    Otoritas menekankan kewaspadaan terhadap tawaran camilan atau cokelat impor yang dijual secara tidak resmi di kanal daring. Jika menerima paket mencurigakan atau menemukan penawaran sejenis, masyarakat diimbau melapor ke polisi atau bea cukai tanpa mencoba sendiri isinya.

    • Jangan memesan camilan impor dari sumber tidak jelas.
    • Laporkan paket mencurigakan ke aparat.
    • Perhatikan label dan asal kiriman luar negeri.
    • Hindari menyimpan atau membagikan barang yang diduga narkotika.

    Pengungkapan Abram Jetro Endiera menegaskan bahwa pemesanan berulang dari luar negeri tetap dapat dilacak. Dengan barang bukti tiga pouch gummy THC dan rangkaian pesanan sebelumnya, penanganan perkara dilanjutkan sesuai ketentuan pidana narkotika yang berlaku.

    Kabar Jatim akan terus mengikuti perkembangan resmi dari Bareskrim terkait status hukum tersangka dan hasil laboratorium lanjutan atas barang sitaan di jalur Malang, demi informasi akurat bagi pembaca di Surabaya dan seluruh Jawa Timur.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: permen ganja, Malang, Bareskrim Polri, narkotika THC, Bea Cukai, Jawa Timur, gummy ganja, narkoba daring

  • PLN Siapkan Listrik Andal dan Wi-Fi di Tambakberas Jelang Muktamar NU ke-35

    PLN Siapkan Listrik Andal dan Wi-Fi di Tambakberas Jelang Muktamar NU ke-35

    Menjelang Muktamar NU Jombang ke-35, kesiapan infrastruktur di kawasan Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menjadi perhatian utama. Komisaris Independen PT PLN (Persero) Ali Masykur Musa meninjau langsung pasokan kelistrikan dan jaringan telekomunikasi di lokasi utama, Selasa (25/8/2026) pagi, agar perhelatan organisasi keagamaan terbesar itu berjalan lancar.

    Bagi pembaca di Surabaya dan sekitarnya, event berskala nasional ini punya daya tarik tersendiri karena jarak tempuh relatif dekat serta potensi kunjungan jemaah dan wisata religi ke Jombang. Pembukaan muktamar dijadwalkan dihadiri Presiden Prabowo Subianto, sehingga keandalan daya dan konektivitas menjadi syarat mutlak.

    Tinjauan lapangan di arena Tambakberas

    Kunjungan Ali Masykur Musa difokuskan pada pengecekan keandalan pasokan listrik serta akses internet yang akan dipakai panitia, peserta, media, dan jemaah. Ia menegaskan komitmen PLN menopang kebutuhan daya di arena muktamar Tambakberas tanpa gangguan selama rangkaian acara berlangsung.

    Menurutnya, dukungan itu bukan sekadar formalitas. PLN ingin memastikan seluruh fasilitas utama mendapat pasokan stabil sehingga aktivitas sidang, ibadah, dan layanan publik tidak terhambat oleh persoalan teknis kelistrikan.

    Wi-Fi mencakup area kegiatan dan alun-alun

    Selain listrik utama, PLN melalui sub-holding PLN Icon Plus menyiapkan infrastruktur telekomunikasi berupa titik Wi-Fi yang dapat diakses di seluruh kawasan muktamar. Jaringan tersebut dirancang menjangkau area kegiatan, pendopo, hingga alun-alun agar komunikasi panitia dan peliputan media tetap mulus.

    Konektivitas merata dinilai penting karena muktamar melibatkan ribuan peserta dari berbagai daerah. Akses internet yang stabil memudahkan koordinasi internal sekaligus distribusi informasi kepada publik yang mengikuti perkembangan acara dari luar lokasi.

    Dukungan di Pondok Pesantren Al-Amanah 2 Bahrul Ulum

    Salah satu titik krusial yang mendapat perhatian adalah Pondok Pesantren Al-Amanah 2 Bahrul Ulum. Di lokasi itu digelar rangkaian Istighatsah dan Manaqib Kubro oleh Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN). Kegiatan tersebut digabung dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta doa bersama agar Muktamar ke-35 NU berjalan sukses.

    Kehadiran pasokan listrik andal dan jaringan Wi-Fi di sekitar pondok membantu kelancaran ibadah massal dan kegiatan pendukung lain. Infrastruktur ini juga menunjang kenyamanan jemaah yang datang dari luar kota, termasuk dari kawasan Surabaya dan Madura.

    Bagian program TJSL dan dampak bagi Jombang

    Dukungan kelistrikan dan internet dari PLN merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR). Sinergi ini diharapkan menjaga kelancaran seluruh rangkaian kegiatan keagamaan sekaligus memperkuat citra kawasan sebagai tujuan wisata religi.

    Bagi Kabupaten Jombang, suksesnya muktamar berpotensi meningkatkan kunjungan peziarah dan wisatawan ke situs-situs pesantren di sekitar Tambakberas. Kesiapan infrastruktur dasar seperti listrik dan Wi-Fi menjadi fondasi agar pengalaman pengunjung tetap nyaman dari awal hingga penutupan acara.

    Dengan peninjauan yang sudah dilakukan dan komitmen penyediaan daya serta konektivitas, PLN menegaskan perannya sebagai penopang teknis perhelatan nasional di tanah Jawa Timur. Publik, termasuk warga Surabaya yang berencana hadir atau memantau dari jauh, dapat mengandalkan kesiapan fasilitas di arena utama.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: Muktamar NU, PLN Jombang, Tambakberas, listrik muktamar, Wi-Fi arena NU, Jombang Jawa Timur, CSR PLN, pesantren Bahrul Ulum