Anggota DPR Desak Penindakan Tegas Usai Tiga Petugas Pertanian Gugur di Papua Pegunungan

Written by

in

Kabar penembakan petugas pertanian di Papua Pegunungan kembali memunculkan desakan kuat dari parlemen agar perlindungan warga sipil diperkuat. Tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya tewas setelah ditembak kelompok bersenjata di Kampung Muliama pada Rabu, 9 September 2026. Bagi pembaca di Surabaya dan Jawa Timur, peristiwa ini menegaskan bahwa keamanan pelayanan publik di wilayah rawan tetap menjadi isu nasional yang pantas dipantau.

Anggota Komisi XIII DPR, Mafirion Syamsuddin Rogo, menilai aksi tersebut melampaui batas kemanusiaan. Ia menekankan bahwa penghilangan nyawa warga sipil yang tidak bersenjata merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan tidak boleh dibiarkan tanpa penindakan.

Kronologi singkat dan identitas tugas korban

Ketiga korban merupakan petugas sipil yang sedang menjalankan tugas dinas. Mereka membawa bantuan ternak untuk masyarakat di kawasan pedalaman. Aktivitas itu bersifat pelayanan publik, bukan operasi bersenjata, sehingga penembakan terhadap mereka dinilai sangat mencederai rasa keadilan.

Lokasi kejadian berada di Kampung Muliama, wilayah Papua Pegunungan. Hingga pernyataan legislator dikutip pada Jumat, 11 September 2026, fokus publik tertuju pada perlunya pengungkapan pelaku dan motif secara tuntas agar kejadian serupa tidak terulang.

Desakan parlemen: negara wajib melindungi sipil

Mafirion menegaskan pemerintah perlu hadir dengan langkah konkret. Menurutnya, pola kekerasan terhadap warga sipil sudah berulang sehingga respons setengah hati hanya akan memperpanjang bayang-bayang ancaman di daerah konflik.

Ia meminta aparat keamanan mengusut siapa dalang dan pelaku lapangan penembakan itu. Tindakan tegas, ujarnya, diperlukan agar hukum tegak dan keluarga korban memperoleh kepastian. Legislator dari PKB itu juga mengingatkan bahwa rasa aman petugas lapangan merupakan prasyarat dasar pembangunan di wilayah terpencil.

Dampak pada pelayanan publik di wilayah rawan

Hilangnya tiga nyawa tidak hanya menyisakan duka keluarga. Peristiwa ini berpotensi menekan semangat petugas lain yang bertugas menyalurkan bantuan pertanian, kesehatan, atau logistik ke kampung-kampung jauh. Ketika petugas takut bergerak, masyarakat yang membutuhkan layanan justru ikut terdampak.

Di sisi lain, warga setempat yang sehari-hari hidup di dekat zona konflik kerap berada dalam posisi rentan. Tanpa jaminan keamanan yang memadai, program pemberdayaan pertanian sulit berjalan berkelanjutan. Isu ini relevan secara nasional, termasuk bagi daerah pengirim bantuan dan tenaga pendamping dari luar Papua.

Apa yang perlu dipercepat aparat dan pemerintah

Prioritas jangka pendek yang kerap disorot parlemen meliputi pengungkapan pelaku, pengamanan rute tugas sipil, serta koordinasi antarinstansi agar penyaluran bantuan tidak berhenti total. Transparansi proses hukum juga penting agar publik menilai negara serius menindak kekerasan bersenjata terhadap warga tak berdosa.

  • Percepatan olah tempat kejadian dan pengumpulan barang bukti.
  • Pengamanan selektif bagi petugas sipil yang bertugas di wilayah berisiko.
  • Komunikasi rutin ke keluarga korban terkait perkembangan penyelidikan.
  • Evaluasi protokol perjalanan dinas di zona rawan konflik.

Langkah-langkah tersebut bersifat operasional dan tidak menggantikan proses peradilan. Namun, tanpa percepatan di lapangan, desakan politik di Jakarta berisiko tinggal wacana.

Catatan untuk publik Jawa Timur

Masyarakat Surabaya dan Jawa Timur terbiasa menyaksikan program kemanusiaan serta dukungan logistik ke wilayah Indonesia Timur. Ketika petugas pertanian menjadi korban kekerasan, perhatian publik di daerah ini wajar mengarah pada pertanyaan sederhana: apakah negara mampu menjamin keselamatan orang-orang yang bekerja untuk rakyat.

Pantauan terhadap penanganan kasus perlu terus dilakukan melalui kanal resmi. Informasi yang beredar di media sosial sebaiknya dicek ulang agar tidak menambah keresahan atau menyebarkan tuduhan spekulatif yang justru menghambat penyelidikan.

Pada akhirnya, gugurnya tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya di Kampung Muliama menjadi pengingat keras bahwa pelayanan sipil di daerah konflik membutuhkan payung keamanan yang nyata. Desakan Komisi XIII DPR agar pelaku diusut tuntas dan negara bertindak tegas pantas diterjemahkan menjadi kerja lapangan yang terukur, terbuka, dan berpihak pada keselamatan warga.

Sumber: Sindo News.

Tag: Papua Pegunungan, Dinas Pertanian Jayawijaya, KKB, Komisi XIII DPR, keamanan sipil, penembakan petugas, Mafirion Syamsuddin Rogo

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *